Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah merancang langkah strategis baru untuk sektor transportasi ramah lingkungan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengisyaratkan bahwa pemerintah saat ini sedang menyiapkan formulasi insentif khusus bagi kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel manganese cobalt (NMC). Langkah penyusunan kebijakan insentif ini sengaja dilakukan sebagai bagian dari upaya nyata untuk memperkuat program hilirisasi nikel di tanah air. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan industri dalam negeri.
Selain untuk memperkuat hilirisasi nikel, kebijakan pemberian insentif ini juga memiliki tujuan penting lainnya di sektor investasi. Pemerintah ingin memastikan bahwa investasi besar yang telah masuk ke dalam industri baterai nasional dapat memberikan dampak yang maksimal bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Dengan adanya skema insentif yang tepat, diharapkan para pelaku industri dapat lebih terdorong untuk memanfaatkan potensi baterai berbasis nikel yang diproduksi secara lokal, sehingga investasi yang masuk tidak sia-sia dan benar-benar memberikan nilai tambah bagi ekonomi nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan penjelasan mengenai rencana kebijakan ini di Jakarta pada hari Senin (3/8/2026). Bahlil menegaskan bahwa pemerintah akan terus mencari formula terbaik agar mobil-mobil listrik yang menggunakan baterai berbasis NMC bisa mendapatkan insentif yang memadai. Alasan utama di balik kebijakan ini adalah karena baterai NMC menggunakan bahan baku yang berasal dari nikel milik Indonesia. Bahlil menyatakan, "Kita akan mencari formula agar mobil-mobil yang menggunakan NMC juga kita harus berikan insentif. Karena itu berbahan baku dari nikel kita."
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Melalui kebijakan insentif ini pula, pemerintah ingin mendorong peningkatan permintaan masyarakat terhadap kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbahan baku nikel. Dorongan terhadap permintaan ini dinilai sangat krusial agar rantai pasok industri kendaraan listrik, mulai dari sektor hulu hingga ke sektor hilir, dapat berjalan secara berkelanjutan. Dengan terciptanya rantai pasok yang berkelanjutan, seluruh ekosistem industri nikel di Indonesia diharapkan dapat beroperasi secara optimal dan memberikan kepastian usaha bagi para investor yang bergerak di bidang ini.
Di sisi lain, pemilihan baterai berbasis nikel seperti NMC juga didasari oleh keunggulan teknologinya. Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa baterai berbasis NMC masih memiliki keunggulan yang signifikan jika dibandingkan dengan teknologi lithium iron phosphate (LFP), terutama untuk kendaraan listrik yang membutuhkan daya jelajah atau jarak tempuh yang lebih jauh. Oleh karena itu, pengembangan ekosistem baterai yang berbasis nikel tetap menjadi bagian yang sangat penting dan strategis dari arah kebijakan industri kendaraan listrik nasional untuk masa depan.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan industri ini juga dibuktikan dengan kesiapan fasilitas produksi di dalam negeri. Saat ini, Indonesia tercatat telah memiliki dua pabrik baterai kendaraan listrik yang siap menopang kebutuhan industri otomotif. Salah satu dari pabrik baterai di Indonesia tersebut merupakan hasil kerja sama strategis dengan CATL dan kini kondisinya sudah siap untuk diresmikan. Dengan beroperasinya pabrik-pabrik ini, upaya untuk menyelaraskan kebijakan insentif dengan ketersediaan produksi baterai dalam negeri diharapkan dapat berjalan dengan sukses demi kemajuan ekonomi nasional.






