Industri pertambangan sering kali diidentikkan dengan dampak lingkungan yang masif. Namun, langkah nyata yang ditunjukkan oleh PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) perlahan mulai mengikis stigma tersebut. Melalui komitmen dekarbonisasi yang terukur, perusahaan pelat merah ini berhasil memangkas emisi karbon sebesar 9,43 persen sepanjang tahun 2025. Angka pencapaian ini tidak hanya memenuhi ekspektasi, tetapi juga melampaui target penurunan emisi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Tren positif ini terus berlanjut hingga memasuki pertengahan tahun 2026. Realisasi pemangkasan emisi karbon ANTAM kembali tercatat melampaui target tahunan yang dicanangkan. Keberhasilan ini didorong oleh langkah cepat perusahaan dalam mengeksekusi program efisiensi energi serta memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), khususnya melalui penggunaan solar photovoltaic (Solar PV) dan biosolar di berbagai wilayah operasional tambang mereka.
Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan bagian integral dari peta jalan dekarbonisasi korporasi. Menurutnya, perusahaan berfokus pada optimalisasi konsumsi energi dan peralihan ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap proses produksi komoditas tambang berjalan dengan dampak lingkungan yang seminimal mungkin.
Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas Harga Bawang Putih hingga Indonesia Timur

Upaya transformatif ANTAM ini mendapat apresiasi langsung dari pemerintah melalui Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Diaz Faisal Malik Hendropriyono. Dalam kehadirannya di acara Gerak Hijau 2026 di Jakarta, Diaz menyatakan bahwa ANTAM telah membuktikan bahwa operasional industri ekstraktif dapat berjalan beriringan dengan pemulihan ekologi. Ia memuji keberhasilan perusahaan yang melampaui target reklamasi lahan bekas tambang serta pengurangan emisi karbon secara signifikan.
Lebih lanjut, Diaz mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak bisa digantungkan pada satu pihak saja. Kolaborasi aktif antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas menjadi kunci utama. Menjaga kelestarian bumi bukan sekadar kewajiban regulasi bagi korporasi atau tugas birokrasi bagi pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan dalam aksi nyata sehari-hari.
Eskalasi Geopolitik Global Bayangi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan

Aksi nyata tersebut tercermin dalam peringatan Hari Mangrove Sedunia yang diintegrasikan dengan perayaan hari ulang tahun ke-58 ANTAM. Berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup, ANTAM menanam 5.000 bibit mangrove sebagai upaya merehabilitasi kawasan pesisir sekaligus memperkuat kapasitas penyerapan karbon alami. Langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak ekologis jangka panjang bagi ekosistem pesisir Indonesia.
Rangkaian kampanye lingkungan bertajuk Gerak Hijau 2026 ini juga dikemas secara interaktif untuk menjangkau masyarakat luas. Selain penanaman pohon, kegiatan ini dimeriahkan dengan jalan sehat (fun walk), edukasi pengelolaan sampah rumah tangga, bazar produk UMKM, hingga pembagian bibit pohon gratis. Melalui program khusus bernama Junior Miners, anak-anak juga diperkenalkan pada dunia pertambangan dan pentingnya menjaga keseimbangan alam sejak usia dini.






