Laju teknologi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi yang kian pesat tidak hanya mengubah wajah industri global, tetapi juga memicu kekhawatiran baru bagi stabilitas tenaga kerja di Asia Tenggara. Di tengah disrupsi teknologi dan peralihan menuju ekonomi hijau, kelompok pekerja perempuan dinilai menjadi salah satu pihak yang paling rentan terdampak. Isu krusial ini mengemuka dalam agenda pelatihan kepemimpinan perempuan tingkat regional yang menyoroti kesiapan para pekerja perempuan menghadapi dinamika dunia kerja modern yang kian kompleks.
Dalam forum ASEAN TUC Women's Leadership Training 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Senin (27/7/2026), urgensi penguatan kapasitas kepemimpinan bagi perempuan disuarakan dengan lantang. Presiden ASEAN Trade Union Council (ASEAN TUC) sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menegaskan bahwa perubahan lanskap pekerjaan saat ini menuntut hadirnya sosok pemimpin yang inklusif. Menurutnya, kepemimpinan perempuan yang tangguh dan berani menjadi kunci untuk mengurai benang kusut ketimpangan gender di tempat kerja serta mengawal hak-hak pekerja di tingkat regional melalui solidaritas yang kuat.








