Pekanbaru Panggung Diplomasi Kota Hijau Asia

Agus CahyonoPublished 27 Jul 2026 - 02.30 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Pekanbaru Panggung Diplomasi Kota Hijau Asia
Foto/Ilustrasi: tempo.co.
A-A+

Sebuah babak baru akan terbuka bagi ibu kota Provinsi Riau ketika Agustus 2026 tiba. Untuk pertama kalinya, Pekanbaru dipercaya menjadi tuan rumah Pertemuan Dewan Wali Kota Kota Hijau (GCMC) ke-9 dalam kerangka Kerja Sama Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT). Ajang yang dijadwalkan berlangsung pada 4 hingga 7 Agustus ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan pentas strategis di mana para pemimpin kota dari tiga negara akan merajut komitmen nyata untuk masa depan perkotaan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Kehadiran forum ini membuktikan bahwa kota di pesisir Sungai Siak itu telah menjelma menjadi magnet baru dalam percaturan kerja sama subkawasan Asia Tenggara.

Diplomasi hijau itu akan dipimpin langsung oleh Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, yang didaulat sebagai Ketua Sidang. Lebih dari tiga puluh pemerintah kota, kabupaten, dan dewan kota dari Indonesia dan Malaysia telah menerima undangan—mulai dari Medan, Batam, Padang, Palembang, hingga Ipoh, Pulau Pinang, dan Kuantan. Delegasi Thailand akan segera ditetapkan oleh sekretariat nasional negara tersebut. Tidak hanya para kepala daerah, forum ini juga melibatkan organisasi-organisasi global seperti UNESCAP, Institute for Global Environmental Strategies (IGES), dan ICLEI–Local Governments for Sustainability. Kolaborasi ini mengukuhkan posisi GCMC sebagai ruang temu para pengambil kebijakan dan mitra pembangunan berkelanjutan yang diakui secara internasional.

Also Read

Investasi Rp2.000 Triliun, China Ciptakan Hong Kong Baru di Pulau Hainan

Di balik deretan delegasi, panitia kota menyiapkan agenda yang jauh melampaui sesi diskusi formal. Gerak ekonomi lokal diproyeksikan ikut bergeliat: tingkat hunian hotel akan terdongkrak, transportasi dan penyedia jasa kuliner berputar lebih cepat, sementara ribuan pelaku UMKM siap menangkap limpahan kunjungan. Secara terpisah, Wali Kota Agung menyampaikan bahwa efek berganda ini adalah kesempatan emas untuk membuka mata para tamu terhadap potensi Pekanbaru sebagai kota yang layak dijadikan mitra investasi. Pemerintah kota bertekad memamerkan sejumlah program unggulan, mulai dari pengelolaan lingkungan, pengembangan ekonomi hijau, hingga inovasi pelayanan publik yang menjadi fondasi wajah baru Pekanbaru.

Jalinan antara keberlanjutan dan kebudayaan pun menjadi benang merah acara. Para peserta tidak hanya akan mengikuti seminar internasional tentang pembangunan kota hijau, tetapi juga menapaki langsung proyek Green City Pekanbaru, Sekolah Hijau, dan Bank Sampah yang menjadi rujukan pengelolaan limbah perkotaan. Puncak jamuan akan berlangsung di Rumah Singgah Tuan Kadi, tempat khazanah Melayu dihidangkan dalam gala dinner yang memadukan keakraban dan diplomasi budaya. Lewat rangkaian ini, Pekanbaru ingin menegaskan bahwa kelestarian lingkungan dan identitas lokal dapat berjalan seiring, bukan dua kutub yang saling mengorbankan.

Also Read

Buru Kasur Idaman di Transmart, Potongan Harga Spesial Satu Hari Saja

Pemerintah kota berharap pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar seremonial. Dari ruang sidang di Pekanbaru, diharapkan lahir kesepakatan konkret—dari sektor investasi, perdagangan, lingkungan, pendidikan, teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia—yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Bagi Indonesia, terpilihnya Pekanbaru menegaskan kembali kapasitas daerah untuk tampil sebagai tuan rumah forum internasional dengan standar tata kelola yang membanggakan. Jika semua berjalan sesuai rencana, para delegasi akan pulang membawa satu kesan sederhana namun berharga: Pekanbaru bukan lagi kota yang sekadar dilewati, melainkan destinasi kolaborasi yang siap menjadi simpul penting di peta kota hijau Asia.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca