PT MRT Jakarta tengah memproses rencana pembangunan infrastruktur penghubung baru berupa Pedestrian Deck Dukuh Atas dengan nilai proyek yang diestimasikan mencapai sekitar Rp300 miliar. Fasilitas ini diklaim dapat memangkas waktu tempuh bagi para pejalan kaki hingga lima menit pada sejumlah rute di dalam kawasan transit tersebut. Kendati estimasi nilai proyek telah diproyeksikan oleh pihak MRT Jakarta, kepastian biaya akhir pembangunan masih belum ditetapkan sepenuhnya. Hal ini dikarenakan proses tender untuk menentukan kontraktor pelaksana proyek masih terus berjalan hingga saat ini.
Pembangunan jembatan pejalan kaki ini diharapkan dapat memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap kenyamanan serta efisiensi waktu mobilitas masyarakat. Berdasarkan proyeksi yang ada, penghematan waktu perjalanan paling besar akan dirasakan oleh pejalan kaki yang bergerak dari kawasan Landmark menuju Gedung Shangri-La. Selama ini, akses langsung antara kedua lokasi tersebut belum tersedia secara memadai. Para pejalan kaki dipaksa untuk turun terlebih dahulu ke permukaan jalan raya, berjalan memutar ke arah selatan, dan kemudian harus kembali naik agar bisa sampai ke tempat tujuan. Dengan hadirnya pedestrian deck ini, rute perjalanan Landmark menuju Shangri-La diproyeksikan dapat menghemat waktu tempuh sekitar empat hingga lima menit. Sementara itu, untuk rute perpindahan antarmoda lainnya di kawasan tersebut, rata-rata penghematan waktu tempuh diperkirakan berkisar antara dua hingga tiga menit.
Progres Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera dan Target Ruas Prioritas

Infrastruktur ini nantinya akan berfungsi sebagai konektor utama yang menghubungkan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas. Fasilitas penyeberangan ini dirancang untuk mengintegrasikan sedikitnya enam moda transportasi massal yang beroperasi di ibu kota, yaitu MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, dan TransJakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa kehadiran jembatan pejalan kaki ini ditujukan untuk mewujudkan konsep mobilitas yang terintegrasi tanpa hambatan atau seamless mobility. Dengan rancangan jembatan yang terproteksi, masyarakat pengguna transportasi publik diharapkan dapat berpindah moda dengan nyaman tanpa harus khawatir terpapar cuaca panas yang terik maupun guyuran air hujan.
Mengenai aspek pendanaan proyek yang telah dicanangkan sejak bulan Juni lalu ini, pihak pengelola menegaskan tidak akan membebankan pembiayaannya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Rencana pembiayaan untuk proyek ini akan mengandalkan kombinasi sumber dana mandiri. Sebanyak 50 persen dari total kebutuhan dana akan menggunakan investasi internal dari pihak MRT Jakarta sendiri. Sementara itu, sisa 50 persen kebutuhan dana lainnya direncanakan akan dipenuhi melalui skema pinjaman (loan). Hingga saat ini, PT MRT Jakarta menyatakan belum memiliki rencana untuk menggunakan skema penanaman modal swasta melalui private placement, ataupun menerbitkan obligasi untuk mendanai proyek infrastruktur tersebut.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Selain fokus pada konstruksi dan skema pembiayaan, aspek penamaan jembatan penghubung ini turut menjadi pembahasan. Pihak MRT Jakarta secara resmi mengimbau masyarakat untuk mulai membiasakan penggunaan nama 'Pedestrian Deck Dukuh Atas'. Imbauan ini ditujukan untuk menggeser sebutan 'Cincin Donat' yang sebelumnya sempat populer di tengah publik lantaran bentuk arsitektur fisiknya yang melingkar. Gubernur Pramono Anung mengonfirmasi bahwa nama resmi untuk jembatan ini belum ditetapkan secara permanen dan nantinya akan ditentukan melalui sebuah sayembara terbuka bagi publik. Di samping itu, MRT Jakarta juga membuka kesempatan bagi para mitra strategis yang ingin bekerja sama dalam hak penamaan (naming rights) sebagai bagian dari upaya optimalisasi dan pengembangan kawasan TOD Dukuh Atas secara berkelanjutan.






