Memasuki awal Agustus, pedagang bendera dan hiasan bernuansa peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia mulai meramaikan jalanan Jakarta. Kehadiran para penjual musiman ini menandai dimulainya momen tahunan mencari untung menjelang hari kemerdekaan. Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa hasil penjualan para pedagang musiman ini justru kian merosot dari tahun ke tahun.
Pemandangan lapak-lapak merah putih ini mulai terlihat jelas di kawasan Jakarta Timur, membentang dari Jatinegara hingga sepanjang Jalan Matraman Raya. Di area tersebut, tercatat sedikitnya sembilan pedagang bendera Merah Putih menggelar lapak mereka, mulai dari depan Taman Benyamin Sueb yang berada di seberang Stasiun Jatinegara hingga ke arah Pasar Mester. Selain itu, di kawasan Pasar Mester sendiri, belasan lapak yang biasanya menjual peralatan rumah tangga kini beralih menawarkan bendera dan berbagai atribut perayaan HUT RI.
Kondisi berbeda terlihat di sepanjang Jalan Matraman Raya, di mana baru tampak sekitar empat lapak yang menjual bendera dan atribut Merah Putih. Hal ini disebabkan karena mayoritas pedagang kaki lima di kawasan Matraman Raya tersebut baru mulai menggelar dagangannya pada sore hari.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Salah satu pedagang kawakan di dekat Pasar Mester bernama Bodi menceritakan pengalamannya dalam melakoni usaha musiman ini. Pria yang sehari-hari berjualan perabot rumah tangga ini mengaku telah berjualan bendera selama lebih dari 35 tahun. Usaha ini diwarisi dari orang tuanya yang sudah membuka toko sejak era 1980-an. Keluarga Bodi rutin berjualan bendera mulai akhir Juli hingga akhir Agustus setiap tahunnya. Berbeda dari kebanyakan pedagang musiman lain yang menyudahi lapak menjelang tanggal 17 Agustus, Bodi memilih untuk tetap membuka lapaknya hingga akhir bulan.
Meski telah puluhan tahun berjualan, Bodi merasakan penurunan omzet yang signifikan. Keuntungan bersih yang diperoleh para pedagang di Jatinegara kini sangat bervariasi dan cenderung menurun. Ada yang masih bisa membawa pulang Rp 2 juta atau Rp 1,5 juta, namun tidak jarang ada yang hanya mendapatkan keuntungan tipis sebesar Rp 500.000. Menurut Bodi, penurunan ini terjadi karena penjualan bendera fisik saat ini terus digempur oleh maraknya penjualan secara online.
Tantangan serupa juga dirasakan oleh Ali, pedagang bendera musiman yang tahun ini mencoba peruntungan di Jalan Bekasi Raya. Bagi Ali, tahun ini merupakan kali pertama ia membuka lapak di kawasan tersebut setelah pada tahun-tahun sebelumnya selalu berjualan di Pamulang, Tangerang Selatan. Ali sendiri telah menjadi pedagang bendera musiman selama lebih dari delapan tahun, sementara di luar musim kemerdekaan ia bekerja sebagai penjaga toko elektronik.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Tahun ini, Ali ditugaskan untuk menjaga lapak bendera milik bosnya. Ia mengeluhkan sikap para calon pembeli yang menawar harga terlampau rendah hingga mendekati nilai modal awal, sehingga margin keuntungan yang didapat menjadi sangat tipis. Ali memberi contoh ketika seorang pembeli menawar bendera jenis backdrop dengan harga Rp 65.000 per meter, padahal modal awal pembuatan bendera tersebut mencapai Rp 75.000.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pengalamannya saat berjualan di Pamulang beberapa tahun lalu. Di Pamulang, bendera dengan modal Rp 75.000 masih bisa laku terjual seharga Rp 200.000. Ketatnya persaingan dan lesunya pembeli bahkan sempat membuat Ali mengalami defisit atau minus hingga Rp 1,2 juta bersama bosnya saat berjualan selama sebulan penuh pada tahun 2023 lalu.






