Pemanfaatan teknologi printer tiga dimensi (3D) di Indonesia saat ini terus menunjukkan tren yang semakin meningkat. Teknologi cetak fisik ini tidak lagi hanya didominasi oleh industri manufaktur skala besar, melainkan mulai dilirik dan diadopsi secara luas oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta para kreator kreatif di tanah air. Pergeseran tren ini menandakan adanya kebutuhan yang tinggi akan teknologi penunjang produksi yang lebih modern dan efisien di tingkat lokal.
Potensi perkembangan pasar teknologi ini juga diperkuat oleh data riset sektor material pendukungnya. Menurut laporan riset dari lembaga Data Bridge Market Research, nilai pasar untuk berbagai jenis material printer 3D diproyeksikan akan mengalami kenaikan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Material yang dimaksud mencakup bahan-bahan utama cetak 3D seperti filament, powder (bubuk), serta resin. Riset tersebut memperkirakan nilai pasar material ini akan meningkat dari yang sebelumnya sebesar 45,63 juta dolar AS pada tahun 2024, menjadi sebesar 178,55 juta dolar AS pada tahun 2032 mendatang.








