Di tengah peta dunia yang semakin bergejolak, gagasan untuk berdiri di atas kaki sendiri kembali mengemuka. Ketidakpastian global, perang dagang, dan kebijakan proteksi yang ditempuh banyak negara membuat ketergantungan pada pihak luar menjadi risiko besar. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa Indonesia tidak punya pilihan lain: harus swasembada, terutama dalam pangan dan energi. Situasi dunia seperti ini, tegasnya, mengharuskan kita membantu diri sendiri, dan jalan paling nyata adalah dengan memastikan kebutuhan strategis terpenuhi dari dalam negeri.
Fondasi ketahanan pangan kini mulai menunjukkan hasil konkret. Menurut Zulkifli Hasan, stok beras nasional telah mencatat surplus selama satu tahun penuh, begitu pula komoditas jagung. Kebutuhan gula untuk konsumsi masyarakat, telur, daging ayam, dan ikan juga tidak lagi mengalami defisit. Ketersediaan yang mencukupi ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki modal kuat untuk tidak bergantung pada impor. Hasil panen dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan pokok, sekaligus meredam gejolak harga pangan global yang sewaktu-waktu bisa mengganggu stabilitas.
Setelah pangan dinilai cukup kokoh, perhatian mulai bergeser ke sektor energi. Pemerintah kini mendorong kemandirian energi dengan langkah awal memastikan pasokan solar yang sudah terpenuhi. Rencana berikutnya adalah mencampurkan etanol ke dalam bensin, dimulai dari kadar sepuluh persen yang dikenal dengan program E10. Bahan baku etanol ini digali dari sumber daya lokal yang melimpah: singkong, jagung, dan tebu. Pengembangan bioenergi berbasis komoditas pertanian ini diharapkan tidak hanya memangkas impor bahan bakar, tetapi juga menciptakan rantai nilai baru bagi petani di berbagai daerah.
Transmart Full Day Sale Hadir Lagi, Elektronik Diskon 50% dan Tambahan 20%

Zulkifli Hasan menegaskan bahwa ketahanan pangan dan energi adalah dua tiang utama agar bangsa ini benar-benar bisa berdiri di atas kaki sendiri. Di tengah perubahan lanskap global yang mendorong banyak negara menutup keran ekspor demi mengamankan kebutuhan domestik, Indonesia harus memastikan denyut nadi bangsanya tidak disandarkan pada keputusan negara lain. Kemandirian, katanya, adalah benteng terbaik menghadapi era yang tidak menentu.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan pesan persatuan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di hadapan peserta Kongres Umat Islam Indonesia, ia berharap MUI tetap menjadi pemersatu di tengah keragaman organisasi masyarakat Islam. Perbedaan, tegasnya, tidak boleh menjadi alasan permusuhan, karena seluruh umat bersaudara. Energi persatuan itu harus dipusatkan untuk melawan musuh nyata: kemiskinan, rendahnya mutu pendidikan, dan anak-anak yang menderita kurang gizi. Semua itu adalah tantangan kolektif yang penyelesaiannya membutuhkan kekompakan, termasuk melalui penguatan ekonomi, pangan, dan energi.
Jalan Panjang Sarjana Mencari Makna dan Pekerjaan

Dengan capaian pangan yang surplus dan langkah awal diversifikasi energi, Indonesia sedang menempatkan kembali kedaulatan di tangan sendiri. Di balik setiap butir beras, batang tebu, dan umbi singkong, tersimpan cita-cita sebuah bangsa yang enggan digoyahkan badai global. Persatuan umat yang dijaga oleh lembaga keagamaan akan menjadi perekat sosial sekaligus motor penggerak untuk menuntaskan pekerjaan rumah kemiskinan dan gizi buruk. Kemandirian sejati bukan hanya tentang tercukupinya perut dan bahan bakar, melainkan juga tentang soliditas bangsa dalam menghadapi segala kemungkinan.






