Langit di Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kabupaten Sukabumi, tiba-tiba berwarna kelabu pada Sabtu (25/7) siang. Sekitar pukul 13.00 WIB, kepulan asap tebal mengepul dari bangunan toilet umum yang terletak tak jauh dari deretan rumah panggung warga. Hanya dalam hitungan menit, percikan api berubah menjadi kobaran raksasa yang menjilat bangunan kayu kering. Di tengah kepanikan, seorang perempuan lanjut usia harus mengambil keputusan yang tak pernah terbayangkan: melompat dari rumah panggungnya demi menyambung napas.
Nenek Uwar, 67 tahun, sedang berada di dalam rumah bersama anaknya ketika bau sangit dan teriakan warga merobek ketenangan siang. Dari jendela, ia melihat sumber api melahap toilet umum dan merambat liar ke permukiman. Tanpa pikir panjang, sang nenek melompat turun dari ketinggian rumah panggung tradisionalnya. Bukan hanya menyelamatkan diri, lompatan itu juga menjadi alarm darurat. Dengan suara lantang ia berteriak meminta tolong, mengerahkan siapa pun untuk bergegas. “Pas balik lagi, api udah di tengah-tengah lembur,” tuturnya, menggambarkan betepa cepat amukan si jago merah menelan kampung.
Wamendagri Sebut Karakter Tentukan 80 Persen Keberhasilan di Gerbang Bonus Demografi

Rumah Uwar hanya terdampak di beberapa bagian; perabot dan barang berharga sebagian besar terselamatkan. Namun duka paling dalam justru datang dari hilangnya lima lumbung padi milik keluarganya yang berdiri terpisah. Lima struktur kayu beratap ijuk itu bukan sekadar gudang, melainkan bank pangan pribadi yang menyimpan hasil panen untuk bertahun-tahun. Semua ludes tanpa sisa. “Rumah cuma sepotong yang kena. Tapi lima lumbung padi habis semua, padahal itu stok buat bertahun-tahun,” kenang Uwar. Bagi penghidupan masyarakat adat yang mengandalkan pertanian padi, hangusnya lumbung berarti lenyapnya jaminan ketahanan pangan keluarga dalam sekejap.
Bencana siang itu jauh lebih besar dari sekadar tragedi seorang nenek. Total 70 rumah di Kasepuhan Ciptamulya rata dengan tanah. Sebanyak 420 jiwa terpaksa mengungsi, meninggalkan puing dan kenangan. Dapur-dapur yang tadinya menyimpan cadangan beras musim lalu kini hanya menyisakan abu. Kasepuhan yang dikenal menjaga warisan tata kelola pangan leluhur itu tengah diuji oleh kobaran api. Di sinilah kehilangan lumbung menjadi pukulan telak: hilangnya satu lumbung bisa mengguncang siklus bertani dan ketersediaan pangan bagi puluhan mulut.
Ketika Vonis Digital Lebih Cepat dari Putusan Hakim

Namun di balik hangusnya kayu dan bulir padi, cerita Nenek Uwar menyisakan sepercik tegar. Lompatan dari rumah panggungnya barangkali adalah perpaduan nyali dan daya hidup warga kampung yang terbiasa akrab dengan alam—sekaligus keras terhadap marabahaya. Meski lumbung tak bisa kembali, nyawa sang nenek dan anaknya selamat, dan kini suara tolongnya telah berubah menjadi langkah kolektif menyambung hidup. Proses pemulihan tengah berjalan dengan dukungan dari berbagai pihak, namun duka atas hilangnya simpanan padi bertahun-tahun akan lama membekas sebagai pelajaran bagaimana sebentar api mampu mengikis ketangguhan pangan yang sudah dirajut lintas musim.






