Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Bandung, Narita Shibori, berhasil mencatatkan lonjakan omzet hingga hampir tiga kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Keberhasilan bisnis fesyen yang memanfaatkan teknik pewarnaan kain shibori ini tidak lepas dari keputusan sang pendiri, Anarita, untuk bergabung sebagai mitra binaan PT Pertamina (Persero) pada tahun 2019. Sejak saat itu, produk kain dengan motif khas Jepang tersebut terus dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen bernilai tambah yang diminati pasar.
Titik balik perkembangan usaha ini dimulai ketika Pertamina memberikan dukungan komprehensif yang meliputi akses pembiayaan serta program peningkatan kapasitas melalui UMK Academy. Tidak hanya dibekali dengan kemampuan manajerial dan teknik produksi yang lebih baik, Narita Shibori juga difasilitasi untuk memperluas akses promosi ke pasar yang lebih luas. Berbagai pameran berskala nasional telah diikuti oleh jenama ini, termasuk di antaranya Inacraft, SMEXPO, Kriya Nusa, hingga ajang Tunjukkan Indonesiamu.
Langkah ekspansi pasar tersebut bahkan berhasil menembus pasar internasional. Pada tahun 2024, Narita Shibori mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pameran DMI Utrecht yang diselenggarakan di Belanda. Keikutsertaan dalam pameran di luar negeri ini menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk memperkenalkan produk kerajinan lokal Indonesia ke kancah global sekaligus memperluas jaringan pemasaran produk shibori asal Bandung tersebut.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Di samping pencapaian dari segi bisnis dan omzet, Narita Shibori juga bertransformasi menjadi unit usaha yang inklusif dengan merangkul kelompok rentan. Selama tiga tahun terakhir, usaha fesyen ini telah berkolaborasi secara konsisten dengan Rumah Hasanah. Kolaborasi sosial ini melibatkan sebanyak 12 penyandang disabilitas dalam proses produksi pembuatan kain shibori. Kontribusi para pekerja disabilitas ini pun tidak tergolong kecil, karena saat ini sekitar 10 persen dari total produksi keseluruhan produk Narita Shibori dihasilkan dari kerja sama tersebut.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, memberikan penjelasan mengenai pentingnya dukungan terhadap sektor ini. Dalam siaran pers yang dirilis pada Sabtu, 8 Agustus 2026, Baron menyatakan bahwa Pertamina memiliki keyakinan kuat bahwa sektor UMKM merupakan penggerak utama bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu, program kemitraan dan pembinaan yang terstruktur seperti yang dijalankan bersama Narita Shibori terus didorong agar para pelaku usaha mikro dapat terus tumbuh secara berkelanjutan.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Secara makro, kontribusi sektor UMKM terhadap perekonomian Indonesia memang sangat signifikan. Saat ini, sektor ini menyumbang sekitar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap sekitar 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia. Kendati demikian, kontribusi ekspor dari pelaku UMKM nasional tercatat masih berada di kisaran 15,7 persen, yang menunjukkan bahwa ruang untuk pertumbuhan pasar luar negeri masih terbuka sangat lebar.
Program pembinaan yang dilakukan oleh Pertamina ini juga dirancang agar sejalan dengan program pembangunan Asta Cita yang diusung oleh Pemerintah. Selain itu, inisiatif pemberdayaan yang inklusif seperti yang dipraktikkan oleh Narita Shibori turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Secara khusus, program ini mendukung pencapaian SDG 8 yang berfokus pada penyediaan Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 10 yang menargetkan Berkurangnya Kesenjangan di tengah masyarakat melalui pelibatan pekerja disabilitas.






