Uang sebesar Rp200.000 menjadi salah satu catatan berharga bagi Kosasih pada tahun 2006 silam. Kala itu, seorang pembeli asal Bali terpikat dan memutuskan untuk membeli salah satu karya miniatur buatan Kosasih yang menggambarkan sosok perempuan pedesaan sedang menjunjung bakul berisi hasil tani di atas kepalanya. Momen tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang pria berusia 55 tahun yang akrab disapa Abah Koko ini dalam merintis usaha kerajinan berbahan karung goni bekas melalui bengkel kerja bernama Goni Craft Natural Art.
Beroperasi dari sebuah rumah sekaligus bengkel sederhana di dalam gang sempit kawasan Rancasawo, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, Abah Koko telah aktif melahirkan karya kriya sejak tahun 1997. Jauh sebelum menekuni kerajinan goni, lulusan sekolah kejuruan arsitektur di Bandung ini menyambung hidup dengan berdagang di sekitar Jalan Cihampelas sejak tahun 1994. Di kawasan tersebut, ia kerap menjual barang hasil kerajinan tangannya sendiri, mulai dari senapan mainan hingga berbagai macam aksesoris.
Ide memanfaatkan karung goni bekas sebagai bahan baku utama kerajinan muncul secara tidak sengaja setelah momen perayaan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1997. Saat itu, tumpukan karung goni bekas terlihat berserakan di sekitar kediamannya. Terinspirasi oleh situasi tersebut, ia mencoba membuat tas dari sisa karung goni dan menjajakannya di tempatnya biasa berdagang di Jalan Cihampelas. Di luar dugaan, produk tas goni pertamanya itu diminati banyak pembeli dan laku keras. Keberhasilan awal ini memicu imajinasinya untuk menciptakan sesuatu yang lebih unik. Terinspirasi dari ketenaran boneka Barbie asal Amerika Serikat, ia bertekad menciptakan boneka serupa dengan sentuhan khas budaya Indonesia.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Dalam proses pembuatannya, Abah Koko merakit rangka kawat terlebih dahulu sebelum melilitkan serat-serat karung goni hingga membentuk figur manusia yang diinginkan. Demi menjaga kesan alami dan ramah lingkungan, ia sengaja mempertahankan warna asli cokelat muda dari karung goni tersebut sejak pertama kali berkarya pada tahun 1997. Untuk menyempurnakan bentuknya, ia memanfaatkan bahan-bahan alam di sekitarnya. Biji nyamplung digunakan sebagai bagian kepala miniatur manusia, sementara aneka biji-bijian lain disulap menjadi replika hasil bumi yang dibawa oleh karakter miniatur tersebut.
Karakter yang diciptakan Abah Koko sebagian besar merekam gerak-gerik masyarakat pedesaan, seperti petani dan pedagang. Melalui figur-figur ini, ia ingin menggambarkan kehidupan para pekerja keras di desa sekaligus menghadirkan ruang nostalgia bagi para penikmat karyanya. Untuk membuat satu produk kerajinan sederhana, ia hanya memerlukan waktu sekitar setengah jam. Namun, proses pembuatan patung dengan karakter yang sedang aktif berkegiatan memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi. Melalui bendera Goni Art Natural Art, ia menjual produknya dengan harga mulai dari Rp30.000 hingga ratusan ribu rupiah, serta menerima pesanan khusus. Karya terbesar yang pernah ia buat adalah patung figur manusia setinggi 2 meter yang berhasil terjual dengan harga jutaan rupiah.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Kini, pemasaran produk kriya berbahan serat goni ini tidak lagi terbatas di Jalan Cihampelas. Dengan bantuan anaknya, Abah Koko mulai merambah ranah digital dengan memajang karya-karyanya di lokapasar seperti Shopee. Langkah ini memperluas jangkauan pasar hingga ke mancanegara. Hasil kerajinan tangan dari gang sempit di Bandung ini kini telah melanglang buana, diekspor ke berbagai negara di kawasan Eropa seperti Jerman dan Belanda, serta merambah pasar Asia seperti Singapura dan Cina.






