Jaringan perhotelan Archipelago meluaskan cakrawala Global Flavours Series dengan memboyong atmosfer gang-gang Tokyo ke 139 hotelnya di seluruh Indonesia. Mengusung tajuk '60 Seconds to Tokyo', kampanye kuliner yang berlangsung mulai Juli hingga Desember 2026 ini tidak sekadar menyajikan menu Jepang, tetapi mencoba merangkai pengalaman bersantap yang memadukan cita rasa autentik street food dan semarak budaya ibu kota Negeri Sakura. Dalam acara perkenalan di Hotel Neo Kota Baru Parahyangan, Bandung, konsep live cooking dan dekorasi khas kota Tokyo menjadi jembatan rasa yang mengundang tamu untuk menjelajah lebih jauh.
Di balik gebyar festival, tersimpan kisah riset yang tak singkat. Corporate Executive Chef Archipelago Hotels, A.S. Windoe, mengungkapkan bahwa timnya sudah mulai meracik konsep sejak Maret 2026. Perjalanan selama lebih dari dua bulan itu akhirnya tuntas pada Mei, setelah serangkaian uji coba yang mengerucutkan puluhan ide menjadi sepuluh menu tetap. Menariknya, salah satu ikon jajanan Jepang, takoyaki, hampir saja terdepak dari daftar. Setelah berdiskusi, tim sepakat bahwa membicarakan kuliner jalanan Jepang tanpa bola-bola gurita itu terasa kurang utuh. Maka, takoyaki pun dipertahankan dengan racikan khas Archipelago yang diselaraskan dengan lidah Indonesia.
Dari Sungai Lolipop Stroberi ke Panggung Spontan, Ketika Dongeng Menjadi Guru Terbaik untuk Anak

Proses adaptasi itu menjadi benang merah yang mewarnai setiap sajian. Ambil contoh menchi katsu, salah satu menu yang paling banyak menyita perhatian. Tim harus menemukan formula tepat agar daging tetap padat saat digoreng namun tetap lembut dan mengeluarkan sari saat dipotong. Ujungnya, mereka menetapkan perbandingan lemak dan daging sebesar 20 berbanding 80, sebuah angka yang menjadi kunci tekstur juicy yang konsisten di seluruh gerai. Dedikasi serupa juga tercurah pada racikan saus pendamping. Chef Windoe menyebut pengembangan saus justru memakan waktu paling lama karena di situlah karakter setiap hidangan benar-benar terbentuk.
Tak berhenti di teknik memasak, tantangan logistik juga menjadi perhatian. Untuk memastikan kualitas wagyu鈥攜ang digunakan pada burger wagyu, hambagu, dan menchi katsu鈥攖erjaga di ratusan titik operasional, tim menggandeng sejumlah vendor lokal. Ketiga menu berbasis wagyu itu pun didapuk sebagai rekomendasi utama yang wajib dicoba. Sementara itu, sentuhan kreatif hadir lewat tempura nachos, perpaduan nasi, kani salad, dan tempura yang mempertemukan dua dunia dalam satu gigitan renyah.
Sulap Malam Dingin Bromo, Kevin Yosua Big 6 ft. Nesia Ardi Pukau Penonton Jazz Gunung

Sebagai penutup manis, dua hidangan penutup tampil dengan kejutan tersendiri. Kuromitsu matcha puff yang sekilas mirip kue sus menyembunyikan isian matcha diplomat, raspberry segar, dan taburan almond croquant di bawah siraman kuromitsu鈥攕aus gula merah Jepang yang dikaramelisasi. Lain lagi dengan japanese cotton cheesecake, yang menyajikan pengalaman interaktif melalui kapsul kecil yang harus ditekan sebelum disantap, melepaskan butterscotch sauce ke atas cheesecake lembut yang beralas strawberry coulis. Detail-detail semacam ini memperlihatkan bahwa '60 Seconds to Tokyo' bukan sekadar perayaan rasa, melainkan perjalanan riset, logistik, dan kreasi yang dirangkai untuk menghadirkan sudut Tokyo yang lebih dekat dari yang dibayangkan.






