Perekonomian Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan tren pertumbuhan yang positif pada awal tahun 2026. Berdasarkan data ekonomi triwulan I 2026, wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,79 persen secara tahunan (year on year). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku yang mencapai angka Rp 61,04 triliun. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi motor penggerak utama dengan memberikan kontribusi terbesar, yaitu mencapai 23 persen terhadap total perekonomian di provinsi tersebut. Di dalam sektor ini, komoditas kelapa sawit memegang peranan yang sangat krusial dalam mendorong aktivitas ekonomi daerah.
Secara nasional, industri kelapa sawit memiliki posisi strategis dalam menopang perekonomian Indonesia. Pada tahun 2025, subsektor perkebunan yang didominasi oleh kelapa sawit menyumbang sekitar 4,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Selain itu, nilai ekspor sawit dari Indonesia secara konsisten membukukan angka yang tinggi, yakni berada di kisaran lebih dari US$ 20 miliar setiap tahunnya. Sektor ini juga menjadi penyedia lapangan kerja yang masif, dengan menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja, baik secara langsung di area perkebunan maupun secara tidak langsung di berbagai industri turunannya.
Upaya hilirisasi industri sawit juga terus menunjukkan perkembangan yang signifikan di pasar global. Saat ini, lebih dari 80 persen dari total ekspor sawit Indonesia telah dikirim dalam bentuk produk hilir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Tidak hanya berorientasi pada pasar ekspor, pemanfaatan sawit untuk kebutuhan domestik melalui bauran energi juga diproyeksikan memberikan dampak finansial yang besar bagi negara. Program bauran energi berbasis sawit ini diperkirakan mampu menghemat devisa negara hingga mencapai Rp 722,9 triliun melalui pengurangan volume impor bahan bakar minyak jenis solar.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Pangkalan Bun menjadi salah satu titik penting dalam memantau aktivitas ekspor komoditas ini di Kalimantan Tengah. Hingga bulan Juli 2026, kantor Bea Cukai Pangkalan Bun tercatat telah melayani sebanyak 157 dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB). Dari seluruh aktivitas pelayanan ekspor tersebut, Bea Cukai Pangkalan Bun berhasil menghimpun total bea keluar sebesar Rp 882,37 miliar. Pada saat yang sama, dana sawit yang berhasil dicatatkan melalui instansi ini mencapai angka Rp 861,58 miliar hingga Juli 2026. Angka-angka ini menegaskan bahwa arus perdagangan kelapa sawit dari wilayah ini memberikan sumbangsih nyata terhadap penerimaan negara.
Keunggulan komoditas kelapa sawit juga terlihat dari tingkat produktivitas lahannya yang jauh lebih efisien dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Rata-rata produktivitas minyak sawit mampu mencapai sekitar 4 ton minyak per hektare. Angka produktivitas ini jauh melampaui tanaman kedelai yang hanya menghasilkan sekitar 0,4 ton per hektare, bunga matahari dengan produktivitas sekitar 0,6 ton per hektare, serta tanaman rapeseed (rapa) yang menghasilkan sekitar 0,7 ton minyak per hektare. Guna menjaga keberlanjutan dan produktivitas ini dari ancaman penyakit tanaman, pada tahun 2025 PT Astra Agro Lestari memperkenalkan tiga varietas baru kelapa sawit. Varietas-varietas baru ini dirancang untuk mempertahankan produktivitas tinggi sekaligus memiliki ketahanan pada tingkat moderat terhadap serangan penyakit Ganoderma.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Meskipun memiliki potensi ekonomi yang besar, tantangan dalam pemerataan produktivitas masih menjadi pekerjaan rumah di tingkat nasional. Saat ini, perkebunan rakyat atau yang dikelola oleh pekebun mandiri menguasai sekitar 41 persen dari total luas perkebunan sawit nasional. Proporsi ini hampir menyamai kepemilikan perkebunan swasta yang menguasai sekitar 55 persen lahan sawit nasional. Namun, dari sisi produktivitas pada tahun 2025, terdapat kesenjangan yang cukup terlihat. Produktivitas kelapa sawit rakyat tercatat hanya sebesar 3,18 ton per hektare. Angka tersebut masih berada di bawah produktivitas perkebunan yang dikelola oleh pihak swasta yang mencapai 3,68 ton per hektare, serta perkebunan yang dikelola oleh negara dengan tingkat produktivitas tertinggi sebesar 4,48 ton per hektare.






