Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini memperlihatkan dinamika yang menarik perhatian para pelaku pasar modal. Meski sempat terkoreksi cukup dalam sebesar 1,88 persen atau setara 118,88 poin ke level 6.196 pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu, performa indeks secara kumulatif mingguan justru masih mencatatkan pertumbuhan tipis 0,34 persen. Fluktuasi ini mencerminkan sikap hati-hati para investor yang tengah bersiap menghadapi berbagai sentimen krusial, baik dari dalam negeri maupun kancah global, pada pekan terakhir Juli.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aktivitas transaksi yang cukup bergairah sepanjang periode 20 hingga 24 Juli 2026. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengungkapkan bahwa kapitalisasi pasar bursa mengalami kenaikan sebesar 1,13 persen hingga mencapai Rp10.870 triliun. Lonjakan signifikan juga terlihat pada rata-rata volume transaksi harian yang melesat 66,88 persen menjadi 43,68 miliar lembar saham. Meskipun frekuensi dan nilai transaksi harian turut merangkak naik, aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,36 triliun pada hari Jumat鈥攕erta akumulasi Rp79,09 triliun sepanjang tahun berjalan鈥攎enjadi catatan penting bagi pergerakan modal di pasar domestik.
Indonesia Optimistis Pertahankan Posisi Emerging Market Lewat Reformasi Bursa

Menatap pekan ini, perhatian pasar akan tersedot oleh sejumlah agenda eksternal yang sangat menentukan arah kebijakan moneter global. VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menilai bahwa pasar akan bergerak variatif dengan kecenderungan menguat dalam rentang terbatas. Dua poros utama yang memengaruhi pergerakan ini adalah perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan serta keputusan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed. Pelaku pasar memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga di level 3,75 persen, sebuah langkah yang membuat sebagian besar investor memilih sikap menunggu dan melihat perkembangan lebih lanjut.
Selain faktor suku bunga, volatilitas rupiah terhadap dolar AS dan rilis data makroekonomi kuartal kedua Amerika Serikat, seperti produk domestik bruto (PDB) serta indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), juga menjadi jangkar penting bagi pergerakan indeks. Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang support 5,987 dan resistance 6.268. Di sisi lain, meredanya ketegangan di Timur Tengah akibat prospek negosiasi diplomatik diharapkan mampu menstabilkan harga komoditas global, khususnya minyak mentah, yang sempat bergejolak.
Kolaborasi Warga Karawang dan BRI Tanam Puluhan Ribu Mangrove demi Cegah Abrasi

Di tengah ketidakpastian tersebut, para analis melihat adanya peluang investasi pada sejumlah saham pilihan. Untuk saham-saham berkapitalisasi besar, pelaku pasar direkomendasikan mencermati Bank Central Asia (BBCA) yang ditargetkan mampu menuju level 6.750 dari posisi penutupan sebelumnya di 6.275, serta Astra International (ASII) dengan target harga 5.300. Sementara itu, untuk saham-saham sektor infrastruktur dan energi, pilihan jatuh pada Rukun Raharja (RAJA) dengan target 1.090, Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) dengan target 200, dan Sentul City (BKSL) dengan target harga 82. Kendati demikian, keputusan investasi tetap memerlukan analisis mandiri yang mendalam dari masing-masing investor.






