Riuh rendah ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, menjadi panggung unjuk gigi bagi berbagai kendaraan ramah lingkungan. Salah satu yang menarik perhatian pengunjung di booth Wuling adalah Wuling Aira ev. Kehadiran mobil listrik mungil ini memicu rasa penasaran publik mengenai seberapa besar dana yang harus disiapkan pemiliknya untuk biaya perawatan serta operasional sehari-hari.
Minat masyarakat terhadap kendaraan listrik sering kali didorong oleh janji efisiensi yang lebih tinggi dibanding mobil konvensional. Secara konstruksi, mobil listrik memang jauh lebih sederhana jika disandingkan dengan kendaraan bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE). Ketiadaan komponen mesin yang rumit memangkas banyak daftar suku cadang yang biasanya wajib diganti secara berkala pada mobil biasa.
Menurut penjelasan Danang Wiratmoko selaku Product Communication Manager Wuling Motors, kesederhanaan konstruksi ini berdampak langsung pada minimnya kebutuhan servis rutin. Pemilik Wuling Aira ev tidak perlu memikirkan ganti oli mesin atau busi secara berkala. Pemeriksaan rutin untuk mobil listrik ini umumnya hanya berfokus pada komponen pendukung seperti kanvas rem, filter AC, serta penggantian pelumas khusus pada reduction gear.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Berkat minimnya komponen yang memerlukan perawatan intensif, estimasi biaya servis berkala kendaraan ini tergolong sangat murah. Wuling Motors memproyeksikan total biaya perawatan Wuling Aira ev hanya berkisar di angka Rp 4,2 juta. Menariknya, estimasi biaya yang tidak sampai Rp 5 juta tersebut diproyeksikan dapat mencakup masa pakai yang sangat panjang, yakni hingga 10,5 tahun.
Selain biaya servis yang bersahabat, pengeluaran untuk konsumsi energi harian juga diklaim sangat menekan pengeluaran. Pihak pabrikan mengeklaim biaya pemakaian energi untuk Wuling Aira ev hanya sekitar Rp 151 per kilometer. Angka ini diperoleh dari hasil pengujian konsumsi daya sebesar 8,9 kWh per 100 kilometer, yang jika dikonversikan setara dengan 11,2 kilometer per kWh. Dengan menggunakan acuan tarif dasar listrik di Indonesia saat ini yang berada di angka Rp 1.699 per kWh, diperoleh biaya operasional yang sangat rendah tersebut.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Kendati angka-angka tersebut sangat menggiurkan, konsumen perlu mencermati beberapa catatan penting terkait pengujian ini. Estimasi konsumsi energi Rp 151 per kilometer tersebut didasarkan pada pengujian yang dilakukan di China dengan menggunakan unit Wuling Aira ev tipe Standard Range, atau yang dikenal sebagai Hongguang Mini ev di sana. Kondisi lalu lintas, gaya berkendara, serta suhu udara di Indonesia yang berbeda dengan lokasi pengujian tentu berpotensi memengaruhi realisasi konsumsi daya di lapangan. Selain itu, fluktuasi tarif listrik di masa mendatang juga dapat mengubah perhitungan biaya operasional riil.
Bagi calon konsumen yang berniat meminang mobil listrik ini, langkah berikutnya adalah menyesuaikan pola berkendara guna mencapai efisiensi optimal. Konsumen juga disarankan untuk tetap melakukan servis berkala sesuai jadwal yang ditentukan pabrikan demi menjaga performa baterai dan sistem kelistrikan tetap prima. Dengan perencanaan matang, transisi menuju mobilitas ramah lingkungan ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang positif bagi penggunanya dalam jangka panjang.






