Dunia otomotif roda dua kerap menghadirkan kendaraan-kendaraan unik dengan konsep yang tidak biasa. Salah satu model yang menarik perhatian adalah Suzuki Choinori, sepeda motor mungil asal Jepang yang dikenal sebagai salah satu kendaraan paling unik yang pernah diproduksi di Negeri Sakura tersebut. Keunikan utama dari motor ini terletak pada bobotnya yang sangat ringan, yakni hanya seberat 39 kilogram. Bobot yang sangat enteng ini setara dengan berat sekitar dua galon air, menjadikannya salah satu motor paling praktis untuk mobilitas jarak pendek.
Jika dibandingkan dengan motor mini legendaris lainnya seperti Honda Motocompo, Suzuki Choinori terbukti jauh lebih ringan. Sebagai perbandingan, Honda Motocompo memiliki berat kosong mencapai 42 kilogram. Meski berukuran sangat kecil dan awalnya hanya dipasarkan di Jepang (JDM), motor langka ini kini sudah masuk ke Indonesia. Salah satu unit Suzuki Choinori yang masih terawat dengan baik saat ini dimiliki oleh seorang kolektor bernama Jeffry Wijaya yang berdomisili di Bogor, Jawa Barat.
Menilik sejarahnya, Suzuki Choinori pertama kali diperkenalkan ke publik pada tahun 2003. Kehadiran motor mungil ini dirancang sebagai respons dari Suzuki untuk menyaingi maraknya sepeda motor murah yang berasal dari China pada masa itu. Pabrikan asal Jepang ini berusaha menciptakan kendaraan yang sangat sederhana, fungsional, dan ekonomis agar dapat bersaing di pasar.
KPK Geledah Rektorat Unsoed dan Rumah Tersangka, Sita Bukti Pengkondisian Mahasiswa Baru

Nama "Choinori" sendiri memiliki filosofi yang menarik dan diambil dari istilah lokal di Jepang. Nama ini diturunkan dari istilah "Toh nori", yang dalam bahasa Jepang merujuk pada kegiatan touring atau perjalanan sepeda motor jarak jauh. Jika "Toh nori" memiliki arti harfiah "perjalanan panjang", maka kata "Choi nori" digunakan sebagai kebalikannya, yang berarti "perjalanan pendek" atau "lompatan singkat". Nama ini sangat merepresentasikan fungsi utama motor yang memang dirancang khusus untuk penggunaan jarak dekat.
Di sektor dapur pacu, Suzuki Choinori tipe CZ41A ini dibekali dengan mesin berkapasitas 50cc dengan teknologi 4-Stroke OHV (Overhead Valve). Mesin mungil ini mampu menghasilkan daya maksimum sebesar 2 dk atau setara dengan 1,5 kW pada putaran mesin 5.500 rpm, dengan torsi puncak mencapai 2,9 Nm. Untuk memangkas biaya produksi agar harganya tetap murah, Suzuki memilih untuk tidak menyematkan transmisi CVT otomatis konvensional. Sebagai gantinya, motor ini menggunakan sistem penyaluran tenaga rantai dan sprocket.
Karena dirancang untuk perjalanan jarak dekat, performa kecepatan Suzuki Choinori pun dibatasi. Kecepatan maksimal motor ini dibatasi hanya berkisar antara 20 hingga 30 km/jam saja. Menariknya, apabila pengendara memacu motor ini hingga menyentuh kecepatan 35 km/jam, lampu indikator sensor pembatas kecepatan (speed sensor limit) akan menyala.
Penasihat LBM NU DKI Minta NU Mandiri Secara Ekonomi, Agar Tak Mudah Terkooptasi

Sepanjang masa produksinya, Suzuki merilis motor ini dalam dua versi yang berbeda. Versi pertama yang diluncurkan pada tahun 2003 masih menggunakan sistem kick starter untuk menghidupkan mesin, dengan lampu sein yang posisinya menyatu pada bagian bodi motor. Sementara itu, pada versi kedua, Suzuki melakukan pembaruan dengan menyematkan fitur electric starter untuk menyalakan mesin, serta memindahkan posisi lampu sein ke bagian setang motor.
Bagi para pencinta motor langka di tanah air, memiliki unit Suzuki Choinori tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Unit milik Jeffry Wijaya di Bogor merupakan salah satu contoh unit yang masih dalam kondisi baik, di mana angka odometernya tercatat masih sangat rendah, yaitu di angka 9 ribu. Bagi yang berminat untuk mengoleksinya, Jeffry berencana untuk menjual motor JDM langka ini dengan harga Rp 25 juta dan masih bisa dinegosiasikan.






