Setiap trader kripto mungkin familiar dengan skenario ini: begitu harga naik sedikit, jari sudah gatal menjual, takut keuntungan lenyap. Sebaliknya, saat pasar berbalik dan portofolio memerah, posisi justru dibiarkan menggantung berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, dengan harapan harga akan pulih. Pola ini bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan fenomena psikologis yang telah dipetakan dalam literatur keuangan perilaku dengan nama "disposition effect".
Istilah itu diperkenalkan oleh Hersh Shefrin dan Meir Statman pada 1985. Mereka mendapati investor cenderung menjual aset yang menguntungkan terlalu dini, sambil menunda merealisasikan kerugian. Akarnya adalah teori prospek yang menekankan bahwa rasa sakit akibat rugi terasa dua kali lebih kuat dibanding kenikmatan dari untung yang setara. Menutup posisi rugi berarti mengakui kekalahan secara definitif, sedangkan menahannya memberi ilusi bahwa kerugian belum benar-benar terjadi selama belum dijual. Data transaksi ribuan akun pialang saham di Amerika Serikat yang diriset Terrance Odean pada 1998 mengonfirmasi fenomena ini secara empiris: proporsi saham untung yang dijual jauh melampaui saham rugi.
Di pasar kripto, disposition effect justru bisa lebih brutal. Volatilitas ekstrem membuat siklus untung-rugi berlangsung sangat cepat. Sebuah studi tentang investor Bitcoin menemukan bahwa bias yang sama bekerja kuat di aset digital, sejalan dengan ramalan teori prospek. Penelitian lintas negara juga mengungkap bahwa dimensi budaya—seperti orientasi jangka panjang atau kecenderungan menuruti hasrat sesaat—memengaruhi tingkat disposition effect di suatu populasi. Dengan kata lain, trader Indonesia mungkin memiliki pola yang khas, namun sayangnya belum ada riset empiris yang mengukurnya secara khusus.
Meredam Gejolak Harga, Kementan Kawal Keseimbangan Benih Unggul dan Kepentingan Petani

Minimnya perhatian terhadap topik ini di ranah media dan edukasi trading lokal bisa dimaklumi. Membahas bias psikologis tidak seksi dibandingkan membagikan sinyal teknikal atau strategi profit instan. Mengakui disposition effect berarti menelanjangi akar masalah: bahwa penyebab utama portofolio dipenuhi aset nyangkut bukanlah kurangnya alat analisis, melainkan ketidakmampuan mengelola emosi saat merah. Celakanya, solusi untuk masalah psikologis tidak bisa dijual sesederhana indikator baru. Selain itu, tanpa data lokal, pemberitaan tentang isu ini sulit memiliki pijakan kuat.
Lalu apa yang bisa dilakukan? Pertama, tetapkan rencana keluar—baik target untung maupun batas rugi—sebelum membuka posisi, bukan setelahnya. Kedua, intervensi informasi sederhana terbukti efektif: riset pada trader profesional menunjukkan bahwa sekadar menyadarkan mereka akan adanya bias ini dapat mengurangi disposition effect dan memperbaiki kinerja portofolio. Ketiga, biasakan menilai portofolio secara utuh, bukan per posisi yang harus impas dulu. Keempat, dorong riset lokal dengan menggandeng akademisi dan exchange untuk menganalisis data transaksi riil trader Indonesia.
Transmart Pangkas Harga Sepeda Listrik Jadi di Bawah Rp4 Juta dalam Sehari

Disposition effect adalah cermin dari cara manusia menghadapi rasa sakit akibat kerugian. Selama bias ini tidak dijadikan bagian integral dari edukasi trading arus utama, siklus trader terjebak aset merah akan terus berulang dari generasi ke generasi. Pasar kripto Indonesia butuh lebih dari sekadar pelatihan candlestick; ia butuh pemahaman bahwa kemenangan terbesar seringkali terletak pada keberanian mengakui dan memotong kerugian.






