Mengapa Konflik Timur Tengah Gagal Dongkrak Harga Emas

Uria Anyi ApuiPublished 27 Jul 2026 - 08.460 Reads
Bagikan WhatsAppX
Mengapa Konflik Timur Tengah Gagal Dongkrak Harga Emas
Foto/Ilustrasi: finance.detik.com.
A-A+

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah biasanya menjadi bahan bakar utama yang melambungkan harga emas ke level tertinggi. Dalam situasi krisis, investor global umumnya berbondong-bondong mengamankan kekayaan mereka ke dalam aset aman (safe haven) ini. Namun, dinamika pasar pada akhir Juli 2026 menunjukkan anomali yang menarik. Eskalasi konflik di kawasan Arab ternyata tidak serta-merta membuat kilau logam mulia ini kembali bersinar terang di pasar domestik.

Sepanjang pekan perdagangan tanggal 20 hingga 25 Juli 2026, harga emas batangan 24 karat produksi Antam terpantau jalan di tempat. Komoditas ini tercatat hanya mengalami kenaikan tipis sebesar Rp 2.000 per gram. Pergerakan yang sangat lambat ini tentu kontras jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, di mana harga emas sempat meroket tajam hingga menembus angka Rp 3 juta per gram saat tensi global pertama kali memuncak.

Fenomena lesunya gairah pasar emas ini dipicu oleh perubahan perilaku investasi masyarakat. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana mereka. Dibandingkan menyimpan uang dalam bentuk emas yang sifatnya pasif dan berorientasi pada perlindungan nilai jangka panjang, para investor kini lebih memilih untuk memutar modal mereka pada instrumen valuta asing (valas).

Also Read

Indonesia Optimistis Pertahankan Posisi Emerging Market Lewat Reformasi Bursa

Menurut analisis Ibrahim, pasar saat ini sedang memburu keuntungan cepat atau cuan jangka pendek. Valuta asing dianggap lebih responsif dan likuid untuk menghasilkan profit dalam waktu singkat. Sementara itu, emas kini lebih dipandang sebagai alat murni untuk menjaga nilai aset dari inflasi, bukan lagi sebagai instrumen spekulasi yang bisa memberikan imbal hasil instan di tengah ketidakpastian global yang sedang berlangsung.

Faktor lain yang tidak kalah krusial dalam menahan laju minat beli masyarakat adalah melebarnya selisih harga jual dan harga beli kembali (buyback) yang ditetapkan oleh produsen. Ibrahim menyoroti bahwa selisih harga buyback emas Antam sempat menyentuh angka di atas Rp 300 ribu per gram. Rentang yang sangat lebar ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para calon pembeli, karena mereka berpotensi langsung menanggung kerugian yang cukup besar saat ingin mencairkan kembali emas mereka dalam waktu dekat.

Also Read

Kolaborasi Warga Karawang dan BRI Tanam Puluhan Ribu Mangrove demi Cegah Abrasi

Kondisi psikologis pasar inilah yang akhirnya mendorong peralihan modal secara masif ke sektor valas. Dengan selisih kurs jual-beli valuta asing yang jauh lebih kompetitif dan kecil dibandingkan spread emas, investor merasa lebih aman bertransaksi tanpa harus takut modalnya tergerus oleh potongan buyback yang tinggi. Emas pun untuk sementara waktu kehilangan daya tariknya sebagai instrumen perdagangan harian yang aktif.

Kendati demikian, prospek jangka panjang untuk logam mulia ini dinilai masih sangat menjanjikan. Ibrahim memproyeksikan bahwa tren harga emas secara keseluruhan akan tetap merangkak naik pada tahun 2027 hingga 2028. Faktor pemicu utamanya adalah konflik bersenjata di Timur Tengah yang tampaknya masih jauh dari kata usai. Selama ketidakpastian geopolitik global ini terus membayangi perekonomian dunia, emas tetap akan memegang peran vitalnya sebagai pelindung kekayaan utama di masa depan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca