Pemerintah Australia kini tengah mempertimbangkan langkah strategis untuk membangun kilang minyak baru untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari 60 tahun terakhir. Rencana besar ini muncul sebagai respons langsung terhadap situasi geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah yang terus menekan pasokan energi dari luar negeri. Bagi Australia, menjaga stabilitas pasokan bahan bakar di dalam negeri kini menjadi prioritas yang mendesak.
Ancaman Kerentanan Energi Global dan Ketergantungan Impor
Kementerian Keuangan Australia baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai kondisi pasar minyak global yang dinilai semakin rentan. Kerentanan ini disebabkan oleh semakin tipisnya bantalan atau cadangan terhadap potensi gangguan pasokan di tingkat dunia. Berdasarkan laporan kementerian tersebut, persediaan minyak global terus menunjukkan tren penurunan sejak eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat.
Bagi Australia, situasi ini merupakan alarm keras mengingat tingginya ketergantungan mereka pada pasar luar negeri. Saat ini, Australia masih harus mengimpor sekitar 80 persen dari total kebutuhan bahan bakarnya demi memenuhi konsumsi domestik sehari-hari.
Melihat kondisi tersebut, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa proyek pembangunan kilang minyak baru ini akan sangat membantu meningkatkan ketahanan nasional. Selain itu, proyek ini juga ditujukan untuk memperkuat kapabilitas kedaulatan Australia di sektor bahan bakar, sehingga tidak terlalu ringkih terhadap gejolak pasokan global.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Sejarah Kemunduran Industri Kilang Domestik Australia
Rencana pembangunan kilang baru ini menjadi upaya penting untuk membalikkan arah kebijakan energi Australia setelah mengalami penurunan kapasitas pengolahan domestik yang signifikan selama beberapa dekade. Sebagian besar kilang minyak domestik yang dimiliki Australia saat ini dibangun pada era 1950-an dan 1960-an.
Namun, dalam tiga dekade terakhir, banyak dari fasilitas pengolahan tersebut terpaksa ditutup secara permanen. Faktor utama yang memicu penutupan ini adalah tingginya biaya operasional di dalam negeri, ditambah dengan munculnya kilang-kilang pengolahan minyak berskala besar di kawasan Asia yang menawarkan efisiensi lebih tinggi.
Sebagai gambaran kemunduran industri ini, Australia tercatat masih memiliki delapan kilang minyak yang aktif beroperasi pada tahun 2000. Kini, jumlah tersebut telah menyusut drastis dan hanya menyisakan dua kilang yang masih beroperasi di seluruh negeri, yaitu kilang milik Ampol di Queensland serta fasilitas pengolahan milik Viva Energy di Victoria.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Di wilayah Australia Barat sendiri, kilang minyak satu-satunya yang mereka miliki resmi ditutup pada tahun 2021. Fasilitas tersebut adalah kilang Kwinana berkapasitas 146.000 barel per hari. Kilang ini berhenti beroperasi setelah perusahaan energi BP memutuskan untuk mengubah fungsinya menjadi terminal impor bahan bakar.
Langkah Awal: Pendanaan Studi Kelayakan
Sebagai langkah awal untuk merealisasikan kilang minyak baru tersebut, pemerintah federal Australia berkolaborasi dengan pemerintah negara bagian Australia Barat. Kedua pihak telah sepakat untuk mengalokasikan dana bersama sebesar A$4 juta atau sekitar Rp50,46 miliar (dengan asumsi nilai kurs Rp12.617 per A$) guna mendanai studi kelayakan proyek.
Jika hasil studi kelayakan tersebut nantinya menunjukkan bahwa proyek ini layak secara ekonomi dan operasional, perusahaan produsen bahan kimia industri bernama Perdaman akan membangun kilang minyak berskala besar tersebut di wilayah Australia Barat. Meski demikian, karena proyek ini masih berada dalam tahap pengkajian awal, realisasi pembangunan kilang pertama dalam 60 tahun ini sepenuhnya masih bergantung pada hasil akhir dari studi kelayakan yang sedang berjalan.






