apriniageosat.co.id
BerandaNasionalHukumEkonomiOlahragaPolitikBisnisTeknologiInternasionalSportsPoliticsBusinessNationalPopuler
Beranda/Sosial

Mendengarkan Denyut Kota yang Makin Samar dari Kursi Depan Angkot

Nyaring AranDiterbitkan 26 Jul 2026 - 03.04 · 1 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Mendengarkan Denyut Kota yang Makin Samar dari Kursi Depan Angkot
Foto/Ilustrasi: Kumparan
A-A+

Kursi depan angkot selalu menawarkan perspektif yang berbeda. Di sana, kita tidak sekadar menjadi penumpang yang pasif menatap jendela, melainkan saksi dari sebuah panggung kecil kehidupan. Akhir pekan lalu, posisi itu kembali saya tempati, bukan karena bernostalgia, melainkan karena sebuah keisengan lama: naik angkot ke bioskop. Tujuannya sederhana, menyaksikan sebuah film yang sedang ramai diperbincangkan. Namun, yang akhirnya bersarang lama di ingatan bukanlah gemerlap layar lebar, melainkan suara lirih dari balik kemudi yang mulai tersapu deru modernitas.

Di tengah gempuran transportasi berbasis aplikasi yang menawarkan kepastian dan kenyamanan, angkot di kota ini masih mencoba bertahan. Tarifnya yang lebih bersahabat dan kelenturan rute yang nyaris menyerupai taksi—selama tidak melenceng terlalu jauh dari jalur utama—menjadi alasannya. Sayangnya, fleksibilitas itu tidak lagi cukup ampuh memanggil kembali penumpang. Terbukti sepanjang perjalanan sebelum mencapai pasar besar, hanya satu dua orang yang naik. Sopir yang saya tumpangi sibuk melongok ke kiri dan kanan, lalu bergumam pendek, "Mana ini orang-orang?" Kalimat itu bukan amarah. Ia lebih mirip bisikan cemas yang keluar dari seorang kepala keluarga yang sedang menghitung hari.

Baca Juga

KPK Geledah Rektorat Unsoed dan Rumah Tersangka, Sita Bukti Pengkondisian Mahasiswa Baru

KPK Geledah Rektorat Unsoed dan Rumah Tersangka, Sita Bukti Pengkondisian Mahasiswa Baru

Perjalanan semakin terasa ganjil ketika angkot tiba-tiba membelok masuk ke jalan kecil. Rupanya, sang sopir sedang mengantar seorang penumpang hingga ke depan gang rumahnya—sebuah layanan ekstra yang menjadi ciri khas moda transportasi ini. Setelah itu, barulah cerita mengalir. Dari hanya membawa tiga orang pulang pergi, keluh kesah tentang kendaraan online, hingga celotehan ringan soal acara kerukunan daerah yang baru dilewatinya. Ada satu dialog yang paling menusuk, yakni ketika ia dan seorang penumpang baru saling tanya soal makan siang. Jawabannya ringan tetapi getir: yang bisa makan cuma mereka yang bawa bekal. Mungkin hanya gurauan untuk mencairkan suasana, tetapi di sanalah saya menangkap potret buram tentang bagaimana pengeluaran harian yang kecil bisa menjadi penanda ketimpangan yang jarang disadari.

Sosiolog Richard Sennett pernah menyatakan bahwa masyarakat urban modern perlahan kehilangan seni mendengarkan. Kita memang hidup berdampingan, tetapi kesibukan dan sekat digital membuat kita tuli terhadap narasi di sekitar. Apa yang saya alami dalam angkot itu adalah pembuktiannya. Di kursi depan itu, saya tidak hanya mendengar cerita tentang penumpang sepi, tetapi juga belajar membaca kegelisahan yang tak terekam dalam statistik resmi. Setiap kursi kosong di belakang adalah representasi dari pendapatan yang gagal dijemput. Ekonom Joseph Schumpeter menyebut fenomena ini sebagai creative destruction, di mana inovasi menciptakan kemajuan sekaligus meluluhlantakkan tatanan ekonomi lama. Teori ini terasa sangat manusiawi dan menyakitkan ketika menjelma menjadi sorot mata sopir yang terus berharap ada tangan melambai dari trotoar.

Baca Juga

Penasihat LBM NU DKI Minta NU Mandiri Secara Ekonomi, Agar Tak Mudah Terkooptasi

Penasihat LBM NU DKI Minta NU Mandiri Secara Ekonomi, Agar Tak Mudah Terkooptasi

Angkot itu akhirnya tiba—terlambat, tetapi entah mengapa saya tidak merasa rugi. Justru dalam keterlambatan itu saya menemukan ruang untuk melakukan slow observation; mengamati dan mendengar dengan ritme yang lebih manusiawi. Film di mal mungkin akan pudar dalam hitungan bulan, tetapi percakapan sore itu akan tinggal lebih lama. Saya pulang dengan sebuah kesadaran bahwa pengetahuan soal kehidupan rakyat tidak melulu harus dicari lewat survei besar atau ruang rapat ber-AC. Ia sering kali berbisik pelan dari balik setir, di antara deru mesin tua yang mogok, di sela-sela harapan akan adanya satu penumpang lagi. Sejatinya, memahami sebuah kota adalah dengan mendengarkan suara-suara yang mulai samar, sebelum ia benar-benar lenyap ditelan zaman.

Ikuti apriniageosat.co.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

angkottransportasi daringperubahan sosialempatifilsafat kesehariancerita kota

Berita Terbaru Lainnya

Perkembangan Regulasi Apple di Indonesia, iPhone 16 Tertunda, iPhone 17e Kantongi Sertifikasi TKDNKelanjutan Kasus Pailit Sritex, Rencana Penyelamatan Ekonomi dan Perkembangan Lelang AsetOtorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi SorotanGagal di Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Alihkan Fokus ke FIFA ASEAN CupKetentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKNBakti Komdigi Optimalkan Satelit Satria-1 Jaga Internet di Sangihe, Talaud, dan SitaroJelang Waisak 2570 BE, Arca Unfinished Buddha Borobudur Dipindahkan ke Lapangan KenariRencana Penerapan Single Salary ASN, Guru Cemas Nasib Tunjangan Sertifikasi

Paling Banyak Dibaca

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

Ekonomi

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

27 Jul 2026

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

Nasional

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

25 Jul 2026

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

Metropolitan

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

27 Jul 2026

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

Pariwisata

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

26 Jul 2026

🔥

Populer

  1. 1Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di MorowaliEkonomi · 27 Jul 2026
  2. 2Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASNNasional · 25 Jul 2026
  3. 3Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan · 25 Jul 2026
  4. 4Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum · 27 Jul 2026
  5. 5Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta TimurMetropolitan · 27 Jul 2026

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalHukumEkonomiOlahragaPolitikBisnisTeknologiInternasionalSportsPoliticsBusinessNational

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap