Pernahkah Anda menyadari bahwa wajah-wajah yang berseliweran di linimasa TikTok kini terlihat semakin mirip? Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari popularitas global teknik riasan asal Tiongkok yang dikenal sebagai Douyin Makeup. Melalui video tutorial singkat berlabel "Get Ready With Me" (GRWM), jutaan pengguna media sosial di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, mencoba mereplikasi tampilan kulit bercahaya, mata besar, hidung ramping, dan efek wajah yang tampak lebih muda serta lembut. Kehadiran tren ini mengubah cara orang merias diri sekaligus memicu diskusi mendalam tentang bagaimana media sosial membentuk persepsi kita terhadap kecantikan.
Douyin Makeup sendiri lahir dari platform Douyin, aplikasi saudara kembar TikTok yang beroperasi khusus di pasar Tiongkok. Berbeda dengan gaya riasan Barat yang cenderung tegas dan berani, estetika Douyin mengutamakan kelembutan visual. Ketika tren ini melintasi batas negara melalui algoritma For You Page (FYP), ia tidak sekadar membawa teknik kosmetik baru, tetapi juga membawa serta standar fisik tertentu yang dianggap ideal. Penelitian dari Zhang (2024) dan Lang et al. (2024) mengonfirmasi bahwa paparan konstan terhadap konten estetika serupa ini dapat memicu tekanan psikologis bagi perempuan muda, karena mereka cenderung membandingkan diri dengan citra digital yang sempurna di layar ponsel mereka.
KPK Geledah Rektorat Unsoed dan Rumah Tersangka, Sita Bukti Pengkondisian Mahasiswa Baru

Dari sudut pandang komunikasi dan media, fenomena penyeragaman visual ini erat kaitannya dengan konsep stereotip digital. Seperti yang diungkapkan oleh Baldwin dan rekan-rekannya (2023), ruang digital memiliki kekuatan besar untuk membentuk pemahaman masyarakat terhadap identitas dan simbol budaya melalui representasi yang berulang. Ketika algoritma TikTok terus menyodorkan wajah-wajah dengan karakteristik fisik yang seragam鈥攕eperti kulit cerah dan dagu berbentuk lancip鈥攕ecara tidak langsung media sosial sedang membangun definisi tunggal tentang apa yang disebut menarik. Standar kecantikan ini perlahan-lahan diterima sebagai norma baru, meskipun tidak mencerminkan keberagaman alami manusia.
Namun, arus globalisasi budaya ini tidak serta-merta melenyapkan identitas lokal. Di Indonesia, para kreator konten kecantikan memainkan peran penting sebagai jembatan budaya yang aktif. Merujuk pada pemikiran Jandt (2020) mengenai komunikasi antarbudaya, penerimaan terhadap budaya asing sering kali melibatkan proses negosiasi dan pemaknaan ulang. Banyak kreator lokal yang tidak meniru mentah-mentah gaya Douyin. Mereka memodifikasinya dengan menyesuaikan alas bedak agar cocok untuk kulit sawo matang, memilih warna perona pipi yang lebih hangat, dan menyederhanakan teknik riasan agar lebih praktis untuk aktivitas sehari-hari di iklim tropis.
Penasihat LBM NU DKI Minta NU Mandiri Secara Ekonomi, Agar Tak Mudah Terkooptasi

Adaptasi kreatif ini membuktikan bahwa audiens lokal bukanlah penerima pasif dari hegemoni algoritma. Sebagian kreator kecantikan di tanah air bahkan mulai berani menampilkan wajah asli tanpa filter, mengedukasi tentang tekstur kulit yang nyata, dan merayakan keberagaman warna kulit asli Indonesia. Upaya ini menjadi penyeimbang di tengah dominasi visual yang homogen di ruang digital. Menikmati tren seperti Douyin Makeup sebagai bentuk ekspresi seni tentu sah-sah saja, asalkan kita tetap memiliki literasi kritis untuk tidak menjadikan tren tersebut sebagai satu-satunya ukuran dalam menilai kecantikan diri sendiri maupun orang lain.






