Stereotip sering kali dengan mudah menempel pada generasi muda sebagai kelompok yang boros dan hanya mementingkan kesenangan sesaat. Pandangan ini kerap muncul karena kita hanya melihat apa yang tampak di permukaan, seperti kopi yang mereka beli atau konser yang mereka hadiri. Padahal, di balik layar gawai mereka, ada perjuangan mengelola pendapatan di tengah lanskap dunia kerja yang berubah sangat cepat. Bagi generasi ini, uang telah bergeser makna dari sekadar alat pembayaran menjadi sebuah simbol rasa aman untuk menghadapi ketidakpastian.
Tantangan finansial yang dihadapi saat ini menuntut pemahaman yang lebih dalam mengenai pengelolaan uang. Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan menyentuh angka 80,51%. Meskipun angka ini menunjukkan peningkatan pemahaman, menjembatani pengetahuan teoritis menjadi kebiasaan sehari-hari tetap menjadi tantangan besar bagi sebagian besar anak muda yang hidup di era digital.








