Harga emas atau logam mulia terus menunjukkan pergerakan yang dinamis. Di tengah berbagai dinamika pasar keuangan global saat ini, pergerakan harga komoditas ini terpantau mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melemah. Bagi para pelaku pasar dan investor yang memantau pergerakan ini, harga emas untuk pekan depan diprediksi tidak akan menembus level Rp 2,8 juta per gram. Perkiraan ini mencerminkan situasi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian akibat berbagai sentimen global.
Menurut analisis teknikal yang dipaparkan oleh Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, pergerakan harga logam mulia pada pekan depan diperkirakan akan berada di kisaran tertentu. Untuk pasar domestik, harga emas diproyeksikan akan ditransaksikan dengan level support di angka Rp 2,41 juta per gram dan level resistance pada posisi Rp 2,72 juta per gram. Sementara itu, dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan memiliki batas support di level Rp 2,58 juta per gram dan resistance di level Rp 2,623 juta per gram. Batasan-batasan ini menjadi acuan penting untuk melihat potensi arah pergerakan harga di tengah fluktuasi pasar.
Selain harga emas domestik, analisis ini juga menyoroti pergerakan harga emas di pasar dunia. Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa harga emas dunia pada pekan depan kemungkinan besar akan diperdagangkan pada rentang support sebesar 3.836 dolar AS per troy ounce hingga level resistance di angka 4.290 dolar AS per troy ounce. Adapun untuk proyeksi jangka pendek, level support harga emas dunia diperkirakan berada di posisi 3.990 dolar AS per troy ounce, sedangkan level resistance berada pada posisi 4.132 dolar AS per troy ounce.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Terdapat sejumlah faktor utama yang dinilai memengaruhi fluktuasi indeks dolar AS, harga minyak mentah, serta harga emas dan logam mulia. Faktor-faktor tersebut meliputi isu geopolitik, perkembangan politik di Amerika Serikat (AS), kebijakan Bank Sentral AS, serta dinamika penawaran dan permintaan (supply and demand). Untuk indikator lainnya, indeks dolar AS sendiri diperkirakan akan bergerak di sekitar rentang 99,20 hingga 102,20. Sementara itu, harga minyak mentah WTI diproyeksikan berada di kisaran 80,50 hingga 96 dolar AS per barel, dan Brent Crude Oil diperkirakan bergerak pada kisaran 95 hingga 105 dolar AS per barel.
Dari sisi geopolitik, konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah masih terus menjadi acuan utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Situasi memanas setelah media di AS melaporkan bahwa AS dan Israel tengah bersiap untuk melancarkan kampanye pengeboman skala besar terhadap infrastruktur energi Iran pada pekan depan. Langkah serius ini diambil guna menghentikan aktivitas Iran dalam memperkaya uranium. Menanggapi rencana tersebut, pihak Iran telah memberikan peringatan keras bahwa mereka tidak akan tinggal diam dan siap melancarkan serangan balasan jika menjadi target penyerangan.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Ketegangan geopolitik ini juga berdampak langsung pada jalur logistik energi global. Saat ini, Laut Merah yang merupakan jalur transportasi penting bagi pengiriman minyak mentah, khususnya bagi Arab Saudi, masih diblokade oleh kelompok Houthi Yaman. Menghadapi ancaman blokade maritim dari kelompok Houthi dan Iran tersebut, Arab Saudi telah menggelar pertemuan untuk membentuk koalisi pertahanan maritim internasional atau persatuan negara-negara Arab. Koalisi ini bertujuan untuk mengamankan Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah. Di sisi lain, aktivitas transportasi di Selat Hormuz hingga saat ini dilaporkan masih mengalami keterbatasan. Berbagai perkembangan geopolitik dan logistik inilah yang pada akhirnya turut membayangi arah pergerakan harga emas dan komoditas global lainnya.






