Tepat pada 25 Juli 1886, uap pertama membelah dataran Sumatera Utara. Rel sepanjang lintas Medan–Labuhan yang dibangun Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) menjadi awal mula perkeretaapian di Pulau Sumatera. Kini, 140 tahun berselang, jejak besi itu telah merangkak jauh melampaui urat nadi perkebunan. Perayaan sederhana di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara menegaskan bahwa moda ini bukan sekadar warisan kolonial, melainkan lokomotif penopang mobilitas dan industri daerah.
Pada akhir abad ke-19, geliat perkebunan tembakau Deli yang mendunia menuntut jalur distribusi efisien menuju Pelabuhan Belawan. Konsesi diberikan pada 1883, dan tiga tahun kemudian DSM mulai mengoperasikan kereta pengangkut komoditas. Dalam puluhan tahun, jaringan itu menjalar ke Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, hingga Rantau Prapat. Puncaknya di tahun 1937, total jalur aktif menembus 553 kilometer. Namun penyusutan lahan dan anjloknya permintaan komoditas perlahan mengikis cabang-cabang strategis, termasuk rute menuju Deli Tua, Bangun Purba, dan Pangkalan Brandan yang akhirnya ditutup.
Pasca nasionalisasi, tubuh PT KAI mengambil alih kendali penuh. Warisan 553 kilometer itu kini menyusut menjadi 476,46 kilometer jalur aktif, tetapi jaringannya justru menautkan denyut ekonomi modern. Sejak 2013, rel telah menyentuh langit melalui KA Bandara Kualanamu yang menghubungkan pusat kota dengan gerbang udara. Lebih lanjut, sejak 2022 konektivitas itu merangkul Pelabuhan Kuala Tanjung dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, memperlancar arus bahan baku dan hasil olahan industri. Transformasi ini membalik logika lama: rel tak lagi sekadar mengantar daun tembakau ke kapal, tetapi mengalirkan pertumbuhan ke simpul-simpul ekonomi baru.
Harga Minyak Dunia Stabil di Tengah Strategi Pemangkasan OPEC+

Indikator kepercayaan publik terus merekah. Volume penumpang merangkak dari 2,43 juta orang pada 2024 menjadi 2,63 juta di tahun 2025. Hingga semester pertama 2026, angka itu sudah menembus 1,39 juta pelanggan dan diproyeksi terus membengkak hingga penghujung tahun. Di sisi logistik, angkutan barang mencatat 883.661 ton (2024), 685.355 ton (2025), dan 387.895 ton sepanjang Januari–Juni 2026. Fluktuasi pada angkutan barang, demikian dijelaskan Manager Humas KAI Divre I Sumut Anwar Yuli Prastyo, sangat terpengaruh dinamika permintaan pasar domestik dan global. Meski begitu, kereta tetap menawarkan ketepatan waktu, keamanan, dan bebas kemacetan yang kian sulit ditemui di jalan raya.
Di tengah lonjakan mobilitas, KAI Divre I Sumut tak berhenti menebar inklusivitas. Pada Kamis (23/7), misalnya, para petugas menyambut pelanggan cilik di Stasiun Medan dalam rangkaian Hari Anak Nasional, menegaskan bahwa rel juga menjadi ruang pertemuan keluarga yang ramah. Sementara itu, antisipasi terhadap gelombang penumpang di Stasiun Rantauprapat mendorong penyiapan jalur baru Rantauprapat Baru–Aek Nabara. Geliat libur sekolah pun memberi sinyal positif: sampai Sabtu (20/6) siang, sebanyak 45.252 tiket telah terjual, didukung keringanan tarif KA Sribilah Fakultatif ekonomi yang terdiskon dari Rp135.000 menjadi Rp94.000.
Mesin Jahit Bekas yang Menghidupi Lima Keluarga

Perjalanan 140 tahun ini bukan sekadar angka. Di bawah naungan KAI, rel Sumatera Utara telah bergeser dari alat pengangkut tembakau kolonial menjadi penggerak mobilitas warga dan rantai pasok industri. Komitmen modernisasi dan perluasan konektivitas memastikan bahwa warisan besi itu tetap adaptif, memperkuat interkoneksi antarwilayah, dan menjahit pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang lebih merata—sebuah mesin pertumbuhan yang tak lagi bergantung pada asap tembakau, melainkan pada denyut zaman yang terus bergerak.






