Bagaimana sebuah bank digital mampu menyeimbangkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan tanpa mengesampingkan peran penting karyawannya? Pertanyaan ini kerap muncul seiring dengan masifnya adopsi teknologi di sektor finansial. Jawabannya terletak pada kolaborasi harmonis antara manusia dan AI, dua kekuatan di balik basis teknologi Bank Jago. Sebagai bank berbasis teknologi, PT Bank Jago Tbk memposisikan Artificial Intelligence (AI) bukan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai asisten digital yang bertugas meringankan pekerjaan rutin sehari-hari.
Meskipun kecerdasan buatan memiliki kemampuan memproses data dengan cepat, Bank Jago tetap menempatkan kendali penuh di tangan manusia. Dalam operasionalnya, AI digunakan sebatas untuk menyajikan rekomendasi atau saran awal berdasarkan analisis data. Keputusan akhir yang membutuhkan empati, pertimbangan mendalam, serta intuisi tetap diambil oleh para karyawan Bank Jago, yang akrab disapa dengan sebutan Jagoan. Pembagian peran ini memastikan bahwa teknologi berfungsi mempercepat proses kerja, sementara kualitas keputusan tetap terjaga melalui pengawasan manusia.
Pandangan mendalam mengenai integrasi teknologi dan pengelolaan talenta ini disampaikan langsung oleh Head of People & Culture PT Bank Jago Tbk, Pratomo Soedarsono. Pria yang akrab disapa Tommy ini membagikan pengalamannya di hadapan ratusan anggota Asosiasi Internasional Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Bisnis (AIESEC) di Universitas Indonesia, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Tommy menjelaskan bagaimana industri perbankan memanfaatkan AI serta merumuskan strategi yang tepat dalam mempersiapkan organisasi dan talenta agar siap menghadapi perubahan industri yang dinamis.
MoraRepublic dan Huawei Indonesia Sepakati Kerja Sama TIK Sektor Enterprise

Selain memanfaatkan asisten digital, Bank Jago juga menerapkan budaya kerja yang memberikan keleluasaan lebih besar kepada para karyawannya. Para Jagoan diberikan ruang yang lebih luas untuk mengambil keputusan secara mandiri dan menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan. Struktur kerja ini meminimalisasi birokrasi, sehingga tim tidak perlu selalu menunggu persetujuan dari jenjang manajemen yang lebih tinggi untuk menyelesaikan masalah nasabah atau operasional secara cepat.
Untuk mendukung kemandirian tersebut, manajemen merancang program khusus bernama "capability journey". Program ini memfasilitasi karyawan dalam mengevaluasi keterampilan mereka secara mandiri sekaligus mengidentifikasi area mana saja yang masih memerlukan peningkatan. Di Bank Jago, konsep pertumbuhan karier juga didefinisikan ulang secara lebih luas. Perkembangan seorang Jagoan tidak melulu diukur dari kenaikan jabatan formal, melainkan bisa dicapai melalui penerimaan tanggung jawab baru, kesempatan menjajal peran yang berbeda, hingga perluasan kompetensi diri.
Pemerintah Siapkan Anggaran Rp3 Triliun untuk Program Insentif Motor Listrik

Pergeseran budaya kerja ini turut mengubah fungsi kepemimpinan di dalam organisasi. Para pemimpin di Bank Jago kini tidak lagi sekadar menjadi pemberi instruksi atau pengambil keputusan mutlak. Peran mereka telah bertransformasi menjadi mentor dan fasilitator. Tugas utama para pemimpin ini adalah mendampingi anggota tim dalam berdiskusi, membantu mereka menemukan solusi secara mandiri, serta mendorong pertumbuhan profesional masing-masing individu secara berkelanjutan.






