Suasana kerja di sebuah fasilitas produksi pupuk organik cair di Garut kini tampak berbeda dengan kehadiran sembilan warga binaan Lapas Kelas IIA Garut. Sembilan narapidana yang tengah menjalani program asimilasi ini diperbantukan untuk bekerja di pabrik yang berlokasi di luar area lapas. Dengan pengawasan ketat dari dua petugas pemasyarakatan, mereka terlibat aktif dalam mengolah limbah kulit menjadi produk pertanian bernilai guna.
Kolaborasi ini bermula dari kemitraan yang dirancang oleh Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, bersama pihak swasta. Pemilik PT Mandraguna Pusaka Indonesia, Rian, menggandeng pihak lapas sekitar tiga bulan lalu untuk mengatasi kebutuhan tenaga kerja sekaligus memberikan pembinaan produktif. Setelah persiapan matang, proses produksi mulai berjalan secara konsisten selama dua bulan terakhir. Perusahaan ini mengembangkan formula khusus untuk mengolah limbah kulit sapi dan domba dari perajin lokal menjadi pupuk organik cair berbasis asam amino.
KAI Targetkan 1,4 Miliar Pelanggan per Tahun pada 2045 lewat Transformasi Bisnis

Kehadiran para warga binaan memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi dan volume produksi. Direktur Operasional dan HRD PT Mandraguna Pusaka Indonesia, Nazmul, mengungkapkan kepuasannya terhadap kinerja para narapidana yang dinilai cepat belajar dan memiliki inisiatif tinggi tanpa perlu terus-menerus diperintah. Kecepatan adaptasi mereka terlihat dari lonjakan kapasitas produksi pabrik. Awalnya, kapasitas produksi hanya berada di kisaran 3.000 liter, kemudian meningkat menjadi 6.000 liter, hingga kini sukses menembus angka 12.000 liter.
Sebelum dipasarkan secara luas, pupuk organik cair berbasis asam amino ini telah diuji coba pada tanaman jagung di kawasan food estate Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Menurut Rian, produk ini menawarkan tiga keunggulan utama bagi sektor pertanian. Selain memberikan efisiensi biaya pemakaian bagi petani, pupuk ini diklaim mampu mendongkrak produktivitas hasil tani sebesar 30 hingga 100 persen, serta menghasilkan pangan berbasis organik yang jauh lebih sehat bagi konsumen.
IHSG Lompat 1,68% Tembus Level Psikologis 6.500, OTW Reli Panjang?

Langkah berikutnya bagi PT Mandraguna Pusaka Indonesia adalah memperluas kapasitas tampung limbah dan memenuhi permintaan pasar yang besar. Saat ini, fasilitas produksi yang ada baru menyerap sekitar dua persen dari total limbah kulit yang dihasilkan oleh para perajin di Garut. Target jangka panjang perusahaan adalah meningkatkan kapasitas tersebut agar mampu menampung hingga 20 persen limbah kulit setempat. Peningkatan ini krusial mengingat potensi pasar yang sangat besar, salah satunya datang dari permintaan Trubus yang mencapai sekitar dua juta liter per tahun. Dalam operasional ke depan, PT Mandraguna Pusaka Indonesia akan terus mengawal aspek legalitas, pemasaran, dan pengendalian kualitas produk.






