Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan kinerja yang sangat positif pada perdagangan hari ini. Mata uang Garuda tampil perkasa dan berhasil melanjutkan tren penguatan yang telah terjadi sebelumnya. Berdasarkan data yang dirilis oleh Refinitiv, pada penutupan perdagangan hari Kamis, 20 Agustus 2026, rupiah tercatat mengalami apresiasi yang cukup signifikan. Rupiah ditutup menguat sebesar 0,48 persen, yang memposisikan mata uang Indonesia ini berada pada level Rp17.740 per dolar AS. Penguatan ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik di tengah dinamika pasar global.
Apresiasi rupiah yang terjadi pada hari Kamis ini merupakan kelanjutan dari performa positif pada hari sebelumnya. Pada perdagangan hari Rabu, 19 Agustus 2026, nilai tukar rupiah juga ditutup di zona hijau. Pada hari tersebut, mata uang Garuda mencatatkan penguatan sebesar 0,14 persen dan berakhir pada level Rp17.825 per dolar AS. Pergerakan positif yang konsisten selama dua hari berturut-turut ini menunjukkan adanya momentum penguatan rupiah yang cukup solid terhadap dolar AS di pasar mata uang.
Penguatan rupiah yang terjadi pada perdagangan hari Kamis tidak lepas dari kondisi mata uang global, di mana dolar AS terpantau sedang mengalami pelemahan. Indeks dolar AS (DXY), yang menjadi acuan untuk mengukur kekuatan mata uang greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya di pasar global, menunjukkan pergerakan yang melemah. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS terpantau mengalami penurunan tipis sebesar 0,08 persen, yang membawa indeks tersebut berada pada posisi 98,760.
BSI Bersiap Kembangkan Produk ETF Emas dan Perluas Bisnis Simpanan Emas

Pelemahan tipis indeks dolar AS pada hari Kamis ini memperpanjang tren penurunan yang dialami oleh mata uang negara adidaya tersebut. Pada sesi perdagangan sebelumnya, indeks dolar AS bahkan sempat mengalami tekanan yang jauh lebih berat. Dolar AS tercatat ditutup ambruk dengan penurunan yang cukup tajam, yaitu melemah sebesar 0,83 persen pada sesi perdagangan terdahulu. Penurunan beruntun pada indeks dolar ini memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk terus bergerak naik.
Di balik melemahnya keperkasaan dolar AS di pasar global, terdapat kebijakan penting yang sedang direncanakan oleh otoritas keuangan Amerika Serikat. Departemen Keuangan AS dilaporkan berencana untuk melipatgandakan atau menggandakan operasi pembelian kembali (buyback) obligasi berjangka panjang mereka. Langkah strategis ini diambil oleh pemerintah Amerika Serikat dengan tujuan utama untuk menjaga likuiditas di pasar keuangan agar tetap stabil dan kondusif di tengah tekanan yang ada.
Telkom Rampingkan Anak Usaha dari 68 Menjadi 18 Entitas

Rencana peningkatan operasi pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan AS tersebut dipicu oleh kondisi pasar obligasi yang sempat bergejolak. Sebelum kebijakan ini direncanakan, telah terjadi aksi jual yang cukup masif di pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat. Aksi jual tersebut mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dengan tenor 30 tahun melesat hingga menyentuh level 5,337 persen. Angka imbal hasil ini merupakan posisi tertinggi yang pernah dicapai sejak tahun 2007, yang kemudian memicu respons kebijakan untuk menjaga likuiditas pasar dan berdampak pada pelemahan dolar AS serta penguatan rupiah.






