Aroma menyengat yang tak biasa menyusup ke permukiman padat Kampung Pladen, Kelurahan Pondok Ranji, siang itu. Warga yang semula mengira bau itu berasal dari bangkai tikus liar mulai curiga ketika anyir busuk kian pekat dan menusuk dari arah gang buntu yang jarang dilalui. Seorang warga nekat mengikuti jejak bau, menyibak semak dan tumpukan barang rongsokan yang menutupi sebuah gubuk tak terpakai. Di balik pintu kayu lapuk itulah, pada pukul 13.30 WIB, lelaki paruh baya itu ditemukan terbujur kaku dalam sunyi yang telah berlangsung berhari-hari. Tubuhnya sudah tak utuh lagi dimakan waktu, tetapi wajahnya masih bisa dikenali: DS, juru parkir yang kesehariannya mengatur kendaraan di sekitar pasar.
DS bukan sosok asing di lingkungan itu. Sepulang menarik upah parkir, ia kerap duduk di warung kopi ujung gang, melempar tawa kecil bersama sesama pekerja serabutan. Namun, lima hari terakhir, bangku langganannya kosong. Istrinya sudah mulai gelisah sejak malam pertama ia tak pulang. Menurut keterangan yang dihimpun petugas, perempuan itu berulang kali menanyakan kabar suaminya kepada tetangga, tapi tak satu pun tahu ke mana DS pergi. Ia hanya diingat sebagai pria pendiam yang jarang menceritakan beban hidupnya. Ketika akhirnya kabar itu datang, bukan dalam wujud suara langkahnya di depan rumah, melainkan jerit histeris warga yang menemukan jasadnya.
Begitu laporan masuk, aparat Kepolisian Sektor Ciputat Timur langsung meluncur ke lokasi bersama tim identifikasi dari Satuan Reserse Kriminal Polres Tangerang Selatan. Di gang buntu yang hanya selebar dua rentang tangan itu, mereka bekerja di bawah terik, memeriksa tubuh korban dengan teliti di tempat kejadian perkara. Kapolsek Ciputat Timur, Kompol Bambang Askar Sodiq, kemudian menyampaikan hasil awal yang cukup meredakan spekulasi liar: tidak ada satu pun luka terbuka, bekas jeratan, atau memar yang menandakan kekerasan. Tidak ada tanda perlawanan. Semua mengarah pada akhir yang alamiah鈥攋asad pria 52 tahun itu diam-diam menyerah pada penyakit yang selama ini mungkin tak pernah ia ceritakan.
Carok Berdarah di Sampang, Pertikaian Jalanan Seret Kakek 60 Tahun dan Dua Pria

"Pada tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan," ujar Bambang, menegaskan bahwa kematian DS bukan bagian dari tindak kriminal. Pihaknya menduga kuat korban meninggal karena sakit yang kambuh saat ia tengah sendirian di gubuk reyot tersebut. Keterangan istri semakin memperkuat dugaan itu: DS punya riwayat mengeluh sesak napas dan nyeri dada yang kerap ia abaikan demi tetap bisa bekerja. Lima hari menghilang, tanpa ada yang mencarinya ke sudut gang yang terlupakan itu, menjadi cukup waktu bagi tubuhnya untuk tak lagi dikenali tanpa bantuan data diri. Polisi tidak menemukan barang berharga yang hilang, pakaiannya pun masih lengkap鈥攕eakan maut menjemput di sela-sela lelap yang panjang.
Gang buntu tempat DS mengembuskan napas terakhir kini kembali sepi, hanya menyisakan goresan kapur polisi dan anyir yang perlahan menguap dibawa angin. Tetapi bagi warga sekitar, peristiwa ini memantik percakapan getir tentang betapa mudahnya seseorang lenyap dari ingatan kolektif, terutama mereka yang hidup dari upah harian dan tak punya banyak relasi. Seorang juru parkir, seperti DS, menjadi bagian dari rutinitas kota yang nyaris tak kasatmata; tangannya sigap mengatur lalu lintas kendaraan, tapi kepergiannya selama hampir sepekan tak langsung menimbulkan alarm. Ironisnya, justru aroma pembusukanlah yang menjadi penanda bahwa ada sebuah nyawa yang padam di tengah bisingnya kampung tanpa ada yang mendengar.
Kala Soal Olimpiade Mengguncang Ruang Ujian Akpol

Keluarga kini hanya bisa meratap di balik ruang dingin kamar jenazah, menanti kepastian yang lebih utuh dari hasil visum. Meski kepolisian tak menemukan unsur pidana, proses identifikasi dan keterangan medis tetap dilengkapi demi ketenangan pihak yang ditinggalkan. Kisah DS bukan sekadar catatan kriminalitas atau statistik kematian mendadak; ia adalah potret sunyi tentang lelaki kecil yang mati dalam sepi di ujung gang buntu, setelah berhari-hari hanya ditemani batuk yang tak sempat diobati dan mimpi yang tak pernah sampai ke rumah.






