Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah merilis laporan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) untuk tahun anggaran 2025. Dokumen laporan yang dikutip pada hari Rabu (29/7/2026) tersebut mengungkap data mengenai pos pembiayaan anggaran negara. Salah satu poin penting yang menjadi sorotan adalah realisasi pembiayaan lainnya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 yang melonjak sangat tajam dan melampaui target awal yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Berdasarkan laporan resmi tersebut, realisasi pembiayaan lainnya dalam pos pembiayaan APBN tahun 2025 mencapai angka Rp 93,92 triliun. Angka realisasi ini dinilai sangat besar jika dibandingkan dengan target awal yang direncanakan pemerintah, yakni hanya sebesar Rp 262 miliar. Perbedaan yang sangat mencolok antara target awal dan realisasi akhir ini menunjukkan adanya dinamika pergeseran anggaran yang besar selama pelaksanaan APBN tahun 2025.
Meskipun demikian, terdapat ketidakpastian administratif mengenai persentase kenaikan yang tepat dalam laporan tersebut. Pada bagian judul dokumen laporan, disebutkan bahwa realisasi pembiayaan lainnya meledak hingga 35.855 persen dari target awal. Namun, pada bagian isi laporan, persentase peningkatan tersebut ditulis sebesar 38.855 persen. Perbedaan angka persentase antara bagian judul dan isi laporan ini menjadi catatan ketidakpastian informasi dalam dokumen tersebut, walaupun kedua angka tersebut sama-sama menggambarkan lonjakan yang sangat masif.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Sebagai informasi, pos pembiayaan lainnya dalam struktur APBN didefinisikan sebagai pos pendukung anggaran. Pos ini mencakup Saldo Anggaran Lebih (SAL), hasil pengelolaan aset negara, serta kewajiban dan transaksi keuangan khusus lainnya. Pos pembiayaan lainnya ini berfungsi untuk menampung transaksi keuangan yang tidak masuk ke dalam kategori pembiayaan utama, seperti pembiayaan yang bersumber dari utang atau pembiayaan investasi.
BPK memaparkan bahwa realisasi pembiayaan lainnya yang mencapai Rp 93,92 triliun tersebut bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL), hasil pengelolaan aset, serta penerimaan pembiayaan dalam negeri. Secara lebih rinci, pembiayaan lainnya dari APBN tahun 2025 yang bersumber dari Rek Lain BI SAL tercatat sebesar Rp 85,6 triliun. Di samping itu, pembiayaan lainnya juga bersumber dari Rekening Kas BLU dengan nilai mencapai Rp 7,54 triliun.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Selain kedua sumber utama tersebut, pos pembiayaan lainnya ini juga mencakup penerimaan pembiayaan atas pemberian pinjaman. Dalam laporan tahun 2025, tercatat adanya penerimaan pembiayaan atas pemberian pinjaman dalam rangka penanggulangan lumpur Sidoarjo. Nilai penerimaan dari pengembalian pinjaman untuk penanggulangan lumpur Sidoarjo tersebut mencapai Rp 183,73 miliar pada tahun 2025.
Secara keseluruhan, laporan LKPP 2025 yang dirilis oleh BPK memberikan gambaran komprehensif mengenai realisasi pos pendukung anggaran ini. Pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL), optimalisasi hasil pengelolaan aset, serta pengelolaan penerimaan pembiayaan dalam negeri menjadi penopang utama melonjaknya realisasi pembiayaan lainnya sepanjang tahun anggaran 2025.






