Pemerintah Indonesia tengah bersiap memulai langkah besar dalam transisi energi nasional melalui proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW). Sebagai penanda dimulainya megaproyek ini, peresmian tahap pertama dijadwalkan berlangsung di Bali. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah mengonfirmasi rencana tersebut dan menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan memimpin langsung seremoni peresmian program strategis ini. Kehadiran Kepala Negara secara langsung menegaskan signifikansi proyek ini bagi arah kebijakan energi nasional di masa mendatang.
Langkah awal ini menjadi sangat krusial mengingat skala proyek yang sangat masif. Sebelum sampai pada seremoni di Bali, pemerintah telah melakukan serangkaian persiapan regulasi dan perencanaan sektoral. Proyek ambisius PLTS 100 GW ini secara resmi telah dimasukkan ke dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode tahun 2025 hingga 2034. Integrasi ke dalam RUPTL ini memastikan bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga surya tersebut memiliki landasan hukum dan perencanaan operasional yang jelas dalam sistem ketenagalistrikan nasional selama satu dekade ke depan.








