Upaya pembangunan ekosistem ekonomi hijau berbasis pertanian dan agroindustri kini tengah disiapkan di Provinsi Lampung. Langkah ini ditandai dengan adanya kesepakatan bersama untuk mengoptimalkan potensi sektor pertanian daerah setempat. Kolaborasi ini dirancang untuk menyelaraskan produktivitas industri pertanian dengan upaya pelestarian lingkungan hidup secara berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi modern.
Kerja sama strategis tersebut diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Kesepakatan ini melibatkan tiga pihak utama, yaitu PT ESGIN Global Partners, Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPD HKTI) Provinsi Lampung, dan Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI). Ketiga entitas ini berkolaborasi guna menggarap potensi besar yang dimiliki oleh Provinsi Lampung di sektor agroindustri.
Lampung sendiri dikenal sebagai wilayah yang sangat strategis untuk pengembangan proyek ini karena statusnya sebagai produsen singkong terbesar di Indonesia. Provinsi ini tercatat mampu menghasilkan komoditas singkong dengan volume produksi mencapai sekitar 7,5 juta ton per tahun. Dengan kapasitas produksi yang sangat melimpah tersebut, potensi limbah hasil pengolahan singkong menjadi tepung tapioka sangat besar, sehingga memerlukan penanganan terintegrasi agar dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.
PTPN Group Siapkan 10 Ribu Hektare Lahan di Jawa Barat untuk Swasembada Bawang Putih

Fokus utama dari proyek kolaborasi ini adalah menekan emisi gas rumah kaca, khususnya dengan mengurangi emisi metana pada industri pengolahan tepung tapioka. Untuk mencapai target tersebut, para pihak akan menerapkan teknologi penangkap metana (methane capture). Melalui teknologi ini, limbah cair yang dihasilkan dari proses pengolahan singkong tidak akan dibuang begitu saja, melainkan bakal diolah dan dimanfaatkan kembali menjadi biogas yang berfungsi sebagai sumber energi terbarukan.
Selain penanganan limbah industri tapioka, kerja sama ini juga menyasar sektor pertanian secara langsung dengan menerapkan metode pertanian yang ramah iklim. Sektor pertanian di daerah ini diarahkan untuk mengimplementasikan konsep Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim. Langkah konkretnya mencakup penggunaan biochar untuk memperbaiki kualitas lahan serta penerapan metode pengairan berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD) khusus pada lahan persawahan guna menghemat air dan menekan emisi.
Ekonom Peringatkan Risiko Pemblokiran Rekening Sepihak terhadap Kepercayaan Nasabah

Guna memastikan seluruh proses berjalan transparan dan terukur, pengembangan proyek ini akan didukung penuh oleh sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi digital yang canggih atau Digital Measurement, Reporting and Verification (Digital MRV). Sistem Digital MRV ini memanfaatkan gabungan teknologi modern terkini, mulai dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pemantauan lewat citra satelit, Internet of Things (IoT), penggunaan drone di lapangan, dasbor digital untuk pemantauan data secara langsung, hingga pemanfaatan teknologi blockchain untuk menjamin keamanan data.
Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman ini, pihak-pihak terkait yang dipimpin oleh perwakilan seperti Yayang Ruzaldy selaku Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners, akan segera menjalankan sejumlah tahapan penting. Agenda kerja berikutnya meliputi penyusunan studi kelayakan (feasibility study), penentuan dan identifikasi lokasi-lokasi prioritas untuk proyek, penyusunan dokumen proyek karbon, penerapan sistem Digital MRV di lapangan, serta penyiapan skema pembiayaan hijau (green financing) untuk mendukung keberlangsungan proyek ini.






