Kinerja keuangan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) mengalami tekanan pada paruh pertama tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, emiten ritel ini membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp204,9 miliar hingga semester I tahun 2026. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 11,05% dibandingkan dengan periode yang sama pada semester I-2025, ketika perusahaan berhasil mengantongi laba sebesar Rp230,3 miliar.
Penurunan laba bersih ini terutama dipicu oleh melemahnya kinerja pendapatan perseroan. Sepanjang semester I tahun 2026, total pendapatan RALS tercatat sebesar Rp1,31 triliun, atau merosot 12,65% dibandingkan dengan pencapaian semester I-2025 yang mencapai Rp1,50 triliun. Penurunan ini bersumber dari dua lini bisnis utama perusahaan, yakni penjualan barang beli putus dan komisi penjualan konsinyasi. Penjualan barang beli putus mengalami penurunan sebesar 15,42% menjadi Rp928,9 miliar dari sebelumnya Rp1,1 triliun. Sementara itu, pendapatan dari komisi penjualan konsinyasi juga terkoreksi sebesar 5,13% menjadi Rp383,9 miliar dari Rp404,7 miliar pada tahun lalu.
Di tengah penurunan pendapatan tersebut, Ramayana sebenarnya telah berupaya melakukan efisiensi pada pos beban. Beban pokok penjualan barang beli putus berhasil ditekan sebesar 16,62% menjadi Rp590,1 miliar, dari sebelumnya Rp707,7 miliar pada semester I-2025. Berkat langkah efisiensi ini, penurunan pada laba bruto dapat sedikit tertahan. Laba bruto perseroan tercatat sebesar Rp722,7 miliar, atau terkoreksi sebesar 9,12% dibandingkan perolehan semester I-2025 yang sebesar Rp795,2 miliar.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Selain itu, perseroan juga berhasil memangkas sejumlah beban operasional lainnya. Beban penjualan RALS tercatat turun sebesar 29,64% menjadi Rp43,2 miliar dari Rp61,4 miliar. Pada saat yang sama, beban umum dan administrasi juga mengalami penyusutan sebesar 3,52% menjadi Rp559,5 miliar dari posisi sebelumnya sebesar Rp580,01 miliar. Di sisi lain, pendapatan lainnya mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, melonjak 37,29% menjadi Rp84,7 miliar dari Rp61,7 miliar. Ditambah lagi, beban lainnya berhasil ditekan secara drastis hingga 94,62% dari Rp1,5 miliar menjadi hanya Rp85 juta. Dengan berbagai dinamika tersebut, laba usaha Ramayana tercatat berada di angka Rp204,6 miliar, atau turun 4,37% dari Rp213,9 miliar pada semester I-2025.
Meskipun demikian, kinerja laba sebelum pajak tetap tertekan karena adanya penurunan pada pendapatan keuangan serta kenaikan biaya keuangan. Pendapatan keuangan perseroan turun sebesar 24,48% menjadi Rp50,5 miliar dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp66,9 miliar. Sebaliknya, biaya keuangan mengalami kenaikan sebesar 18,74% menjadi Rp16,7 miliar dari Rp14,1 miliar. Hal ini membuat laba sebelum pajak penghasilan RALS tercatat sebesar Rp238,4 miliar, menyusut 10,64% dari Rp266,8 miliar pada semester I-2025. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan neto yang juga turun 8,04% menjadi Rp33,5 miliar, laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp204,9 miliar.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Adapun total laba komprehensif tahun berjalan RALS mengalami penurunan yang lebih dalam, yakni mencapai 22,60% menjadi Rp184,5 miliar dibandingkan dengan Rp238,3 miliar pada semester I-2025. Penurunan tajam ini dipicu oleh rugi komprehensif lain setelah pajak yang tercatat sebesar Rp20,3 miliar, berbalik arah dari posisi laba komprehensif sebesar Rp8,02 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kerugian komprehensif ini disebabkan oleh kerugian dari perubahan nilai wajar aset keuangan tersedia untuk dijual yang mencapai Rp26,1 miliar. Meskipun pos pajak penghasilan terkait berubah menjadi manfaat pajak sebesar Rp5,7 miliar dari sebelumnya beban pajak sebesar Rp2,2 miliar pada semester I-2025, hal tersebut belum mampu menutupi kerugian nilai wajar tersebut.
Dari sisi neraca keuangan, total aset PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk juga menunjukkan penurunan. Hingga akhir semester I tahun 2026, total aset RALS tercatat sebesar Rp4,5 triliun. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi aset pada akhir tahun 2025 yang mencapai Rp4,7 triliun.






