PT Bank Permata Tbk (BNLI) berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif pada paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, emiten perbankan dengan kode saham BNLI ini membukukan laba bersih sebesar Rp1,72 triliun pada semester I-2026. Pencapaian laba bersih tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 4,5% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Pada semester pertama tahun lalu, laba bersih Bank Permata tercatat sebesar Rp1,65 triliun. Pertumbuhan laba bersih ini menunjukkan kinerja yang solid di tengah berbagai dinamika sektor keuangan.
Pendorong utama di balik pertumbuhan laba bersih Bank Permata pada semester pertama tahun 2026 ini adalah penurunan yang signifikan pada pos beban pencadangan atau Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Bank Permata mencatatkan penurunan CKPN sebesar kurang lebih 25%, menyusut dari Rp1,06 triliun pada semester pertama tahun lalu menjadi Rp795 miliar pada periode laporan per 30 Juni 2026. Penurunan CKPN ini menjadi faktor krusial yang menopang profitabilitas bank, terutama karena pendapatan bunga dan syariah bersih perseroan mengalami tekanan. Pendapatan bunga dan syariah bersih Bank Permata turun sekitar 4,1% menjadi Rp4,84 triliun pada semester I-2026, dibandingkan dengan Rp5,04 triliun yang diraih pada semester I-2025.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Penurunan pada pendapatan bunga dan syariah bersih tersebut juga berdampak langsung pada total pendapatan operasional perseroan. Sepanjang enam bulan pertama tahun 2026, total pendapatan operasional Bank Permata tercatat mengalami penurunan tipis menjadi Rp6,10 triliun. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama di tahun sebelumnya, total pendapatan operasional perseroan mampu mencapai Rp6,14 triliun. Kendati total pendapatan operasional mengalami penurunan, efisiensi yang didorong oleh menyusutnya beban CKPN berhasil menjaga kinerja laba bersih tetap tumbuh secara positif hingga akhir Juni 2026. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan risiko dan efisiensi biaya operasional memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas keuangan perseroan.
Dari sisi neraca keuangan, khususnya penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), Bank Permata mencatatkan dinamika yang bervariasi pada beberapa instrumen simpanan nasabah. Saldo giro perseroan mengalami penurunan sebesar 12,2% menjadi Rp64,74 triliun, sementara saldo tabungan juga tercatat turun sebesar 9,4% menjadi Rp44,77 triliun. Di sisi lain, deposito berjangka milik perseroan justru mencatatkan pertumbuhan yang signifikan sebesar 14,3% hingga mencapai Rp79,65 triliun. Pergeseran ini menunjukkan adanya perubahan preferensi nasabah dalam menempatkan dana mereka. Sementara itu, untuk fungsi intermediasi atau penyaluran dana, kredit yang diberikan oleh Bank Permata tumbuh secara positif menjadi Rp158,98 triliun pada akhir semester I-2026, meningkat jika dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp152,11 triliun.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Menanggapi pencapaian kinerja keuangan pada semester I-2026 ini, Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, memberikan pandangannya. Beliau menyatakan bahwa hasil yang dicapai pada paruh pertama tahun ini mencerminkan kondisi fundamental perseroan yang sehat serta kemampuan adaptasi yang baik. Meliza M. Rusli menjelaskan bahwa kinerja Semester I tahun 2026 bukan hanya mencerminkan hasil kinerja yang sehat, tetapi juga menunjukkan kepercayaan dari nasabah, serta kemampuan untuk terus beradaptasi di tengah perubahan yang berlangsung cepat. Dengan hasil positif ini, Bank Permata membuktikan kapabilitasnya dalam menjaga pertumbuhan profitabilitas secara berkelanjutan di tengah tantangan industri perbankan saat ini.






