Pasar saham Korea Selatan mengalami guncangan hebat pada perdagangan hari Selasa (28/7). Indeks KOSPI mencatatkan penurunan tajam sebesar 10,84 persen atau merosot sebanyak 732,09 poin, hingga ditutup pada level 6.023,66. Kejatuhan yang sangat signifikan ini memicu kepanikan di kalangan pelaku pasar dan memaksa otoritas bursa setempat untuk mengambil langkah darurat demi menjaga stabilitas perdagangan yang terus tertekan sepanjang hari.
Lembaga pengawas bursa Korea Exchange (KRX) memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas perdagangan (trading halt) di pasar KOSPI dan KOSDAQ selama 20 menit. Langkah intervensi ini diambil setelah indeks mengalami tekanan jual yang luar biasa dalam waktu singkat. Sepanjang tahun ini, tingkat volatilitas pasar modal di Korea Selatan memang tergolong sangat tinggi dan tidak biasa. Tercatat, delapan dari total 14 kali kejadian penghentian sementara perdagangan (circuit breaker) yang terekam sejak tahun 2000, justru terjadi pada tahun ini. Selain itu, nilai transaksi pada tengah hari terpantau merosot sangat dalam hingga lebih dari 30 persen di bawah rata-rata transaksi harian selama 30 hari terakhir.
Pemicu utama dari kemerosotan tajam ini berasal dari sektor teknologi, khususnya saham-saham di industri semikonduktor yang selama ini menjadi motor penggerak utama indeks. Dua raksasa teknologi asal Negeri Ginseng, yaitu Samsung Electronics dan SK Hynix, memimpin kejatuhan pasar dengan penurunan harga saham masing-masing hingga lebih dari 13 persen. Pelemahan sektor ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor global dan domestik, mulai dari sentimen negatif pasar global terhadap prospek sektor kecerdasan buatan (AI), aksi pemangkasan leverage (deleveraging) oleh para investor, hingga kekhawatiran yang kian meningkat terkait ketatnya persaingan industri semikonduktor dari produsen asal China.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Dari sisi arus modal, aksi jual masif ini didominasi oleh pergerakan investor asing. Para pelaku pasar luar negeri tersebut membukukan penjualan bersih (net sales) yang sangat besar, yakni mencapai sekitar 4,5 triliun won, atau setara dengan kurang lebih USD 3 miliar. Di tengah kepanikan dan aksi lepas portofolio oleh pemodal asing tersebut, kelompok investor ritel domestik justru mengambil langkah yang bertolak belakang dengan melakukan pembelian bersih secara aktif demi memanfaatkan momentum penurunan harga saham.
Kondisi terpuruk yang terjadi saat ini sangat kontras jika dibandingkan dengan performa indeks KOSPI beberapa waktu sebelumnya. Sebelum mengalami koreksi tajam ini, KOSPI sempat dinobatkan sebagai indeks saham dengan kinerja terbaik di dunia setelah mencatatkan lonjakan nilai yang luar biasa, yakni melampaui 100 persen sepanjang tahun berjalan. Namun, dengan kejatuhan terbaru pada hari Selasa tersebut, posisi indeks KOSPI saat ini tercatat telah terkoreksi lebih dari 30 persen jika dihitung dari titik puncaknya yang dicapai sekitar sebulan lalu.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Sementara bursa Korea Selatan menghadapi tekanan jual yang luar biasa ekstrem, pergerakan pasar modal di Indonesia cenderung jauh lebih tenang dan stabil. Pada waktu yang bersamaan dengan anjloknya KOSPI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia hanya mengalami pelemahan tipis sekitar 0,4 persen. IHSG ditutup melemah terbatas pada level 6.161,11, menunjukkan daya tahan pasar domestik yang relatif lebih kuat di tengah guncangan hebat yang melanda pasar keuangan Asia Timur tersebut.






