Upaya untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan India kini terus didorong, salah satunya melalui penyediaan jalur transportasi udara yang lebih efisien dan cepat. Hubungan ekonomi serta sosial antara kedua negara dinilai akan menjadi jauh lebih kuat jika didukung oleh infrastruktur konektivitas yang memadai. Jalur penerbangan langsung dipandang sebagai solusi utama untuk memangkas hambatan logistik serta mempermudah mobilitas masyarakat dari kedua belah pihak, sehingga dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas di masa depan.
Dalam sebuah diskusi mengenai peluang pengembangan infrastruktur penerbangan yang berlangsung di Visakhapatnam, India, pentingnya rute penerbangan langsung menjadi poin krusial yang dibahas. Business Chairman International Airports & Energy GMR Group, Srinivas Bommidala, menyatakan secara terbuka kepada Media Indonesia bahwa konektivitas langsung harus menjadi prioritas utama guna memperkokoh hubungan antara kedua negara. Menurutnya, langkah ini sangat penting untuk memastikan potensi kerja sama antara kedua negara dapat terwujud secara maksimal tanpa hambatan transportasi.
Ketertarikan GMR Group terhadap pasar Indonesia sendiri terus memperlihatkan tren yang positif. Setelah terlibat aktif dalam pengelolaan Bandara Kualanamu di Sumatra Utara, GMR Airports kini tengah melirik proyek-proyek bandara lainnya di wilayah Indonesia. Langkah ekspansi ini menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan asal India tersebut dalam memperkuat kehadirannya di sektor transportasi udara nasional Indonesia serta mendukung pengembangan infrastruktur udara di tanah air.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Di India, pembangunan infrastruktur udara baru juga terus dikebut untuk menopang rencana konektivitas internasional ini. Salah satu proyek mercusuar yang sedang berjalan adalah pembangunan Bandara Bhogapuram, yang secara resmi dikenal dengan nama Bandara Internasional Alluri Sitarama Raju. Terletak secara strategis di Bhogapuram, Distrik Vizianagaram, proyek infrastruktur udara ini telah diresmikan secara langsung oleh Perdana Menteri India, Narendra Modi, sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas penerbangan negara tersebut.
Pembangunan Bandara Bhogapuram ini dipercayakan kepada GMR Visakhapatnam International Airport Limited. Proyek ini digarap melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai sekitar 500 juta dolar AS. Bandara ini dijadwalkan mulai beroperasi secara resmi pada tanggal 17 Agustus 2026 mendatang. Pada fase awal operasionalnya, Bandara Bhogapuram ditargetkan mampu melayani kapasitas hingga enam juta penumpang per tahun. Selanjutnya, kapasitas bandara ini akan ditingkatkan secara bertahap untuk mengakomodasi lebih dari 40 juta penumpang per tahun.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Pihak pengelola tidak hanya melihat Indonesia sebagai satu-satunya pasar potensial di kawasan Asia Tenggara. Executive Director and Chief Innovation Officer GMR Airports, SGK Kishore, menjelaskan bahwa selain Indonesia, GMR Airports juga membidik Vietnam dan Filipina sebagai destinasi potensial di Asia Tenggara untuk jaringan penerbangan dari Bandara Bhogapuram. Hal ini menunjukkan bahwa koridor Asia Tenggara menjadi fokus ekspansi strategis bagi bandara baru tersebut dalam memperluas jangkauan internasionalnya.
Di samping upaya peningkatan konektivitas dengan India di Asia Selatan, Indonesia juga tengah bersiap menyambut babak baru dalam hubungan dagang global. Perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Eropa ditargetkan dapat mulai bergulir pada tahun depan. Sinergi antara pembukaan pasar baru dengan Uni Eropa serta peningkatan konektivitas fisik melalui proyek bandara dengan India diharapkan mampu mendongkrak daya saing ekonomi Indonesia secara signifikan di kancah internasional.






