PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp314,03 miiliar sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan penurunan yang cukup tajam sekitar 73 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana perseroan berhasil mengantongi laba bersih mencapai Rp1,18 triliun. Penurunan profitabilitas yang signifikan ini terjadi di tengah performa operasional perusahaan yang sebenarnya masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif di berbagai sektor layanan.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penurunan laba bersih ini bukan disebabkan oleh melemahnya bisnis utama KAI Group, melainkan dipicu oleh faktor non-operasional. Penyebab utamanya adalah meningkatnya pencatatan bagian rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan yang harus ditanggung oleh perseroan. Nilai rugi bersih dari entitas asosiasi dan usaha patungan tersebut melonjak drastis dari Rp948,20 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp3 triliun pada semester I 2026. Lonjakan beban ini secara langsung menekan laba sebelum pajak perusahaan yang turun menjadi Rp842,69 miliar dari sebelumnya Rp1,86 triliun.








