PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp314,03 miiliar sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan penurunan yang cukup tajam sekitar 73 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana perseroan berhasil mengantongi laba bersih mencapai Rp1,18 triliun. Penurunan profitabilitas yang signifikan ini terjadi di tengah performa operasional perusahaan yang sebenarnya masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif di berbagai sektor layanan.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penurunan laba bersih ini bukan disebabkan oleh melemahnya bisnis utama KAI Group, melainkan dipicu oleh faktor non-operasional. Penyebab utamanya adalah meningkatnya pencatatan bagian rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan yang harus ditanggung oleh perseroan. Nilai rugi bersih dari entitas asosiasi dan usaha patungan tersebut melonjak drastis dari Rp948,20 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp3 triliun pada semester I 2026. Lonjakan beban ini secara langsung menekan laba sebelum pajak perusahaan yang turun menjadi Rp842,69 miliar dari sebelumnya Rp1,86 triliun.
Meskipun laba bersih tertekan, kinerja fundamental bisnis utama KAI Group justru memperlihatkan pertumbuhan yang cukup menjanjikan. Pendapatan konsolidasi KAI Group meningkat sebesar 6,61 persen menjadi Rp17,96 triliun pada semester I 2026, naik dari Rp16,85 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sejalan dengan kenaikan pendapatan tersebut, laba bruto perseroan juga terkerek naik 18,81 persen menjadi Rp6,79 triliun. Sementara itu, laba usaha perusahaan juga mengalami peningkatan sebesar 25,79 persen menjadi Rp4,66 triliun, yang menunjukkan bahwa efisiensi operasional di lini bisnis utama masih berjalan dengan baik.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Dari sisi neraca keuangan, KAI Group mencatatkan total aset sebesar Rp104,79 triliun per 30 Juni 2026. Perusahaan juga berhasil melakukan pengelolaan kewajiban dengan baik, terlihat dari total liabilitas yang turun menjadi Rp65,11 triliun dari sebelumnya Rp66,14 triliun pada akhir tahun 2025. Sebaliknya, ekuitas perusahaan mengalami peningkatan menjadi Rp39,69 triliun. Likuiditas KAI juga berada dalam kondisi yang sehat dengan kenaikan aset lancar menjadi Rp21,04 triliun, sementara kewajiban jangka pendek atau liabilitas jangka pendek berhasil ditekan turun menjadi Rp15,17 triliun.
Pertumbuhan pendapatan ini ditopang oleh tingginya volume angkutan penumpang dan logistik. Sepanjang semester pertama tahun 2026, KAI Group melayani sebanyak 258,99 juta pelanggan, atau tumbuh sebesar 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 240,81 juta pelanggan. Mayoritas pelanggan, yakni sekitar 235,14 juta orang atau 90,79 persen dari total pelanggan, menggunakan layanan publik yang mencakup skema Public Service Obligation (PSO), kereta perintis, penugasan pemerintah, serta layanan komersial lainnya.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Untuk sektor angkutan barang, KAI berhasil mengangkut total 32,5 juta ton komoditas selama paruh pertama tahun ini. Volume angkutan barang tersebut didominasi oleh batu bara sebesar 26,53 juta ton, sementara komoditas non-batu bara menyumbang sebesar 5,96 juta ton. KAI juga terus memperkuat kapasitas logistiknya, salah satunya dengan mendatangkan 1.080 gerbong datar di wilayah Sumatra dan mengembangkan layanan KA Brumbung Cargo yang memiliki kapasitas angkut hingga 800 ton per rangkaian kereta. Secara keseluruhan, volume angkutan peti kemas KAI mencapai sekitar 2,62 juta ton pada semester I tahun ini.
Menghadapi tantangan profitabilitas akibat kerugian dari perusahaan asosiasi ini, manajemen KAI berencana untuk mengambil langkah-langkah strategis ke depan. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyatakan bahwa perseroan berkomitmen untuk melanjutkan program transformasi bisnis secara berkelanjutan. Langkah transformasi ini nantinya akan dijalankan secara sinergis bersama dengan BPI Danantara Indonesia guna mengoptimalkan kinerja portofolio bisnis dan memperkuat struktur keuangan perusahaan di masa mendatang.






