Hubungan kepemilikan baru antara badan usaha milik negara dan pihak swasta di sektor pertambangan terus menjadi sorotan utama bagi publik dan para pelaku pasar. Salah satu dinamika korporasi yang paling banyak menyita perhatian dalam beberapa waktu terakhir adalah penyelesaian divestasi saham Vale Indonesia ke MIND ID. Langkah strategis ini menandai babak baru bagi PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang kini secara resmi memposisikan dirinya sebagai anggota dari holding industri pertambangan BUMN tersebut. Perubahan struktur kepemilikan ini diharapkan mampu membawa dampak jangka panjang bagi arah kebijakan industri, terutama setelah MIND ID resmi menjadi pemegang saham terbesar dengan porsi kepemilikan sekitar 34 persen.
Meskipun kepemilikan saham telah beralih, PT Vale Indonesia Tbk mencatatkan kinerja keuangan yang negatif pada kuartal II dan semester I tahun 2025. Berdasarkan Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, penurunan kinerja fundamental ini sejalan dengan melemahnya harga rata-rata nikel secara global. Pada semester I 2025, harga rata-rata nikel matte perseroan turun menjadi US$ 12.014 per ton dari sebelumnya US$ 13.418 per ton pada periode yang sama tahun 2024. Hal ini menyebabkan pendapatan Vale terkoreksi menjadi US$ 426,73 juta dari US$ 478,75 juta pada semester I tahun lalu.
Ketertelusuran Asal Emas Perlu Diperbaiki untuk Tekan Pertambangan Ilegal

Dari sisi operasional, perseroan sebenarnya membukukan kenaikan produksi nikel matte sebesar 9 persen pada kuartal II 2025 menjadi 18.557 metrik ton. Secara kumulatif untuk semester I 2025, produksi nikel matte juga tumbuh tipis 2 persen menjadi 35.584 metrik ton. Namun, pertumbuhan produksi ini tidak diiringi dengan volume penjualan yang justru turun menjadi 35.119 metrik ton. Laba kuartalan perseroan juga mengalami penurunan tajam menjadi US$ 3,5 juta pada kuartal II 2025 dari US$ 21,8 juta pada kuartal sebelumnya, yang dipengaruhi oleh penyesuaian nilai wajar aset derivatif satu kali sebesar US$ 16,6 juta pada kuartal I 2025.
Di pasar saham, pergerakan harga saham INCO cenderung fluktuatif dengan kecenderungan melemah sebesar 2,76 persen sepanjang tahun 2025 berjalan hingga akhir Juli, diiringi aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 289,93 miliar. Meskipun demikian, analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi beli akumulatif dengan target harga wajar Rp 4.190 per lembar saham. Rekomendasi ini didasarkan pada prospek jangka panjang kebutuhan nikel global untuk industri baja nirkarat dan ekosistem kendaraan listrik seiring dengan potensi pemulihan ekonomi global.
Terimbas Penutupan Tambang Ilegal, Kinerja Keuangan TINS Melesat

Guna mengoptimalkan nilai tambah bagi perekonomian nasional, MIND ID berkomitmen mendukung kelanjutan tiga proyek strategis nasional milik Vale Indonesia, yaitu IGP Pomalaa, IGP Morowali, dan proyek HPAL Sorowako. Dengan total investasi mencapai US$ 8,5 miliar, proyek-proyek ini ditargetkan menambah kapasitas produksi hingga 240 kiloton nikel per tahun dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) pada periode 2026-2027. Kelanjutan proyek ini juga didukung oleh kepastian hukum melalui Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang memperpanjang masa operasi perusahaan hingga 28 Desember 2035 dengan kewajiban pembayaran bagi hasil 10 persen dari laba bersih kepada pemerintah.






