PT Timah Tbk (TINS) menunjukkan pemulihan kinerja keuangan yang sangat signifikan pada paruh pertama tahun 2026. Perusahaan pelat merah ini mulai merasakan dampak positif yang nyata dari langkah tegas penertiban tambang ilegal serta penutupan berbagai jalur penyelundupan timah di wilayah Bangka Belitung. Berkat upaya penegakan hukum dan penertiban tersebut, TINS berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang luar biasa. Pada semester I-2026, emiten pertambangan ini membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 2,71 triliun. Angka laba bersih ini melonjak lebih dari 9 kali lipat jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perseroan hanya mencatatkan laba bersih sebesar Rp 300,07 miar.
Lonjakan laba bersih ini juga sejalan dengan pertumbuhan pendapatan perseroan yang sangat pesat. Selama semester I-2026, pendapatan PT Timah Tbk tumbuh sebesar 146,9% secara tahunan menjadi Rp 10,42 triliun. Seiring dengan peningkatan pendapatan, laba usaha TINS juga mengalami kenaikan yang sangat signifikan, yakni melesat dari Rp 380,20 miliar pada periode tahun lalu menjadi Rp 3,46 triliun pada paruh pertama tahun ini. Pertumbuhan operasional yang efisien ini tercermin pula dari margin laba usaha perusahaan yang melebar secara drastis. Margin laba usaha TINS tercatat melebar dari yang sebelumnya hanya sebesar 9,01% kini melonjak menjadi 33,24%.
Indofarma Lanjutkan Restrukturisasi dan Koordinasi Suntikan Modal dengan Danantara

Pencapaian finansial yang gemilang tersebut tidak lepas dari performa operasional perseroan yang solid di lapangan. Hingga akhir semester I-2026, produksi bijih timah TINS tercatat mengalami kenaikan sebesar 75% menjadi 12.232 ton Sn. Tidak hanya bijih timah, produksi logam timah juga mengalami pertumbuhan sebesar 58% menjadi 10.865 metrik ton. Kenaikan produksi ini diimbangi dengan kinerja pemasaran yang kuat, di mana volume penjualan logam timah melonjak hingga 85% menjadi 10.984 metrik ton. Kinerja operasional dan penjualan yang kuat ini kian diuntungkan oleh kondisi pasar global, di mana harga jual rata-rata timah TINS meningkat sebesar 52% menjadi US$ 49.794 per metrik ton.
Membaiknya kinerja operasional PT Timah Tbk pada semester I-2026 ini sangat ditopang oleh penguatan pengawasan serta pengamanan di Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) milik perseroan. Langkah pengamanan ini mendapatkan dukungan penuh dari Satuan Tugas Pemerintah Pusat. Penertiban ini merupakan kelanjutan dari instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan pelaksanaan operasi besar-besaran sejak September 2025 lalu. Operasi terpadu tersebut melibatkan sinergi antara TNI, Polri, dan Bea Cukai dengan target untuk menertibkan sekitar 1.000 tambang ilegal serta menutup jalur-jalur penyelundupan timah yang selama ini merugikan negara di kawasan Bangka Belitung.
Harga Minyak Mentah Menguat di Tengah Ketidakpastian Pembukaan Selat Hormuz

Kinerja keuangan dan operasional yang cemerlang ini langsung direspons positif oleh para pelaku pasar modal di tanah air. Harga saham TINS mengalami apresiasi yang cukup signifikan di bursa efek. Tercatat, harga saham perseroan meningkat sekitar 17,7% dari Rp 3.270 per lembar saham pada tanggal 30 Juni 2026 menjadi Rp 3.850 per lembar saham pada tanggal 10 Agustus 2026. Dengan tingkat harga saham Rp 3.850 tersebut, nilai kapitalisasi pasar PT Timah Tbk kini telah mencapai kisaran Rp 28,67 triliun. Selain itu, apabila dihitung berdasarkan laba bersih semester I-2026 yang disetahunkan secara sederhana, saham TINS saat ini diperdagangkan dengan indikasi rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings ratio (PER) yang cukup atraktif, yaitu berada pada kisaran 5,3 kali.






