PT Indofarma Tbk terus berupaya menjaga keberlangsungan operasional dan memulihkan kinerja keuangan perseroan. Sebagai bagian dari langkah penyelamatan, emiten farmasi berkode saham INAF ini memperoleh pinjaman dana sebesar Rp220 miliar dari induk holding BUMN farmasi, PT Bio Farma, pada tanggal 15 September 2025. Fasilitas pinjaman tersebut dialokasikan secara khusus untuk mendukung efisiensi biaya operasi perseroan yang tengah menghadapi tantangan berat.
Pada tanggal yang sama dengan penerimaan pinjaman tersebut, yakni 15 September 2025, Indofarma mengambil keputusan krusial dengan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal terhadap 413 karyawan. Langkah PHK massal ini dilakukan dalam rangka melaksanakan efisiensi biaya operasi perusahaan. Akibat dari kebijakan pengurangan tenaga kerja tersebut, jumlah karyawan Indofarma sempat menyusut drastis dan hanya menyisakan 3 orang karyawan saja di dalam perseroan. Namun, guna memenuhi kebutuhan operasional berikutnya, perseroan melakukan rekrutmen ulang terhadap 18 karyawan pada akhir September 2025. Langkah rekrutmen ini membuat jumlah total karyawan Indofarma bertambah menjadi 21 orang per tanggal 30 September 2025.
Transmart Full Day Sale Hadirkan Diskon Elektronik Mesin Cuci dan TV hingga 50 Persen

Proses penyehatan korporasi Indofarma juga melibatkan peran aktif dari lembaga pengelola investasi negara. Wakil Kepala BP BUMN, Aminuddin Ma'ruf, menyampaikan bahwa langkah-langkah penyehatan telah dilakukan terhadap Indofarma. Salah satu langkah yang telah ditempuh adalah pelaksanaan asesmen terhadap Indofarma oleh PT Danantara Asset Management (Persero) atau DAM. Berkaitan dengan hal tersebut, Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, menyatakan bahwa perseroan terus melakukan koordinasi secara intensif dengan Danantara Indonesia. Koordinasi ini terkait dengan permintaan suntikan modal yang diajukan untuk mendukung proses penyehatan perseroan, di mana permohonan restu suntikan modal tersebut telah diajukan sejak kuartal IV-2025.
Ke depan, Indofarma telah memastikan akan melanjutkan upaya restrukturisasi kinerja pada tahun 2026 mendatang. Langkah restrukturisasi ini berjalan sebagaimana diamanatkan dalam Perjanjian Homologasi yang telah disepakati. Dalam pelaksanaannya, upaya restrukturisasi Indofarma didukung penuh oleh Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), serta PT Bio Farma (Persero) selaku Holding BUMN Farmasi. Upaya restrukturisasi ini mulai menunjukkan perkembangan pada laporan keuangan terbarunya. Sepanjang tahun buku 2025, Indofarma berhasil membukukan penjualan bersih sebesar Rp151,5 miliar. Selain itu, perseroan juga berhasil memangkas rugi periode berjalan secara signifikan sebesar 76,7 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp77,9 miliar, membaik dibandingkan dengan kerugian pada tahun 2024 yang mencapai Rp334,5 miliar.
SpaceX Alokasikan Belanja Modal AI Rp 288 Triliun pada Kuartal II-2026

Jika ditarik ke belakang, wacana penguatan sektor farmasi pelat merah melalui pembentukan holding BUMN farmasi sebenarnya memiliki sejarah yang cukup panjang. Rencana penggabungan atau pembentukan holding ini sudah mulai mencuat sejak tahun 2009. Pada bulan Desember 2013, rencana pembentukan holding BUMN farmasi yang melibatkan PT Indofarma Tbk dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) sempat diupayakan. Namun, pada masa kepemimpinan Elfiano Rizaldi selaku Direktur Utama Indofarma saat itu, sinergi tersebut belum dapat terealisasi. Hal ini disebabkan karena belum adanya kesepakatan yang dicapai serta belum diperolehnya persetujuan dari para pemegang saham kedua perusahaan tersebut.






