Perusahaan teknologi antariksa SpaceX dilaporkan telah mengalokasikan belanja modal yang sangat besar untuk unit kecerdasan buatan mereka. Dalam satu kuartal saja, nilai belanja modal kecerdasan buatan tersebut tercatat mendekati 16 miliar dolar AS atau sekitar Rp 288 triliun. Jumlah pengeluaran yang fantastis ini bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat dari total pendapatan grup secara keseluruhan. Langkah investasi besar-besaran ini terjadi di tengah situasi pasar yang menantang, di mana nilai pasar SpaceX kembali mengalami kemerosotan setelah sebelumnya sempat anjlok hingga lebih dari 1 triliun dolar AS dari titik puncaknya.
Meskipun menghadapi penurunan nilai pasar, SpaceX sebenarnya mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang cukup signifikan dari sisi pendapatan. Sejak melantai di bursa saham pada Juni 2026, pendapatan SpaceX melesat hingga 92 persen secara tahunan pada kuartal kedua tahun 2026. Walau demikian, SpaceX hingga saat ini masih membukukan kerugian finansial secara keseluruhan. Menariknya, mesin uang utama yang menjadi pendorong pendapatan terbesar perusahaan kini bukan lagi sekadar bisnis roket dan satelit, melainkan unit kecerdasan buatan yang beroperasi di darat. Melalui unit ini, SpaceX menyewakan kapasitas komputasi kepada raksasa teknologi seperti Anthropic dan Google.
IHSG Ambruk 0,69%, Dua Saham Ini Jadi Beban

Tekanan terhadap harga saham dan valuasi SpaceX juga dipengaruhi oleh faktor pasar modal lainnya. Pada tanggal 6 Agustus 2026, saham SpaceX senilai 100 miliar dolar AS membanjiri pasar menyusul berakhirnya masa penguncian bagi para investor awal, jajaran eksekutif, serta karyawan perusahaan. Menanggapi dinamika ini, Elon Musk menyatakan optimismenya terhadap infrastruktur kecerdasan buatan perusahaan. Musk menyatakan bahwa kapasitas pusat data SpaceX, yang saat ini berada di kisaran 2 gigawatt, ditargetkan akan meningkat pesat hingga lebih dekat ke angka 10 gigawatt daripada 5 gigawatt pada akhir tahun 2027 mendatang. Lebih lanjut, Musk juga menargetkan total pendapatan SpaceX mampu menembus angka 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp 18.000 triliun pada tahun 2030.
Demi mendukung ambisi pusat data tersebut, Elon Musk berjanji bahwa infrastruktur komputasi SpaceX akan sepenuhnya mengandalkan chip kecerdasan buatan canggih buatan Nvidia. Pernyataan ini turut memberikan dampak positif bagi Nvidia, di mana saham perusahaan pembuat chip tersebut melonjak pada tanggal 5 Agustus 2026. Sementara itu, unit bisnis satelit Starlink juga terus memperluas pasarnya dengan menjaring pelanggan dari sektor korporasi dan pemerintahan. Presiden SpaceX, Gwynne Shotwell, menyatakan bahwa peluncuran satelit seluler baru pada tahun depan yang dikombinasikan dengan spektrum yang dibeli dari EchoStar akan mampu merebut cukup banyak pelanggan dari operator telekomunikasi konvensional di Amerika Serikat. Akibat proyeksi ini, harga saham sejumlah operator telekomunikasi besar di Amerika Serikat seperti AT&T, Verizon, dan T-Mobile dilaporkan mengalami kejatuhan.
Tantangan Destry Damayanti Sebagai Calon Tunggal Gubernur Bank Indonesia

Di sisi lain, aktivitas operasional antariksa SpaceX juga diwarnai oleh insiden jatuhnya salah satu roket bekas mereka. Bagian atas dari roket Falcon 9 milik SpaceX diyakini telah menghantam permukaan Bulan pada hari Rabu, 5 Agustus 2026. Sebelum menabrak Bulan, objek roket bekas tersebut diketahui telah melayang tanpa arah di luar angkasa sejak bulan Januari 2025. Hantaman keras tersebut dilaporkan terjadi di dekat kawah Einstein dengan kecepatan yang sangat tinggi, yakni mencapai hampir 9.000 kilometer per jam.






