Pendiri raksasa teknologi Google, Sergey Brin, secara konsisten bertahan di posisi orang terkaya nomor empat di dunia. Berdasarkan data waktu nyata (real-time) Forbes per Minggu (9/8), total kekayaan bersih pria kelahiran Moskow ini mencapai US$267,6 miliar atau setara dengan Rp4.763,5 triliun. Sumber utama pundi-pundi keuangan Brin berasal dari kepemilikan saham serta keberhasilannya membangun Google, yang saat ini bernaung di bawah payung perusahaan induk Alphabet Inc. Di balik gelimang harta tersebut, terdapat kisah panjang perjalanan karier dan keunikan personal dari sang inovator.
Lahir pada Agustus 1973, Brin bermigrasi dari Moskow ke Amerika Serikat bersama keluarganya. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) di University of Maryland sebelum melanjutkan studi pascasarjana di Stanford University. Di kampus inilah sejarah dunia teknologi mulai berubah. Pada tahun 1995, Brin yang kala itu baru berusia 22 tahun bertemu dengan Larry Page. Keduanya memiliki ketertarikan yang sama terhadap tantangan ekstraksi data dari kumpulan informasi yang sangat masif.
Pertemuan tersebut berlanjut pada kolaborasi riset. Brin dan Page mulai mengerjakan sebuah proyek penelitian mesin pencari yang awalnya dinamai BackRub. Melalui proyek ini, mereka mengembangkan algoritma revolusioner bernama PageRank untuk menilai tingkat pentingnya suatu halaman web berdasarkan jumlah dan kualitas tautan balik (backlink). Pada tahun 1997, nama proyek tersebut diubah menjadi Google, sebuah pelesetan dari istilah matematika "googol". Setahun kemudian, tepatnya pada 1998, mereka resmi mendirikan perusahaan Google di sebuah garasi sewaan.
Nilai Aset Digital Turun, Trump Media Catat Kerugian Rp4,25 Triliun pada Kuartal II 2026

Sebagai salah satu pendiri, Brin memegang peran krusial sebagai President of Technology di Google. Ia bertanggung jawab memimpin proyek-proyek inovasi masa depan melalui divisi laboratorium eksperimental Google X. Dari laboratorium inilah lahir teknologi canggih seperti kacamata pintar Google Glass hingga rintisan pengembangan mobil otonom. Ketika Google melakukan restrukturisasi organisasi menjadi Alphabet Inc. pada tahun 2015, Brin ditunjuk menjabat sebagai Presiden Alphabet. Jabatan eksekutif harian tersebut akhirnya ia tinggalkan pada akhir tahun 2019, meski ia tetap mempertahankan pengaruhnya sebagai pemegang saham pengendali sekaligus anggota dewan direksi Alphabet.
Meskipun memiliki kekayaan yang luar biasa melimpah, Brin dan Larry Page pernah mengambil keputusan unik terkait pendapatan mereka. Setelah Google berkembang pesat dan melantai di bursa saham (go public), kedua tokoh ini menolak menerima gaji besar. Mereka memilih memotong gaji pokok harian mereka menjadi hanya US$1 per tahun. Selain kebijakan gaji tersebut, Brin juga dikenal dengan gaya hidupnya yang tidak biasa. Pada masa-masa awal perkembangan Google, ia kerap terlihat berkeliling kantor atau menghadiri pertemuan internal dengan menggunakan sepatu roda (rollerblades).
Shopee dan Tokopedia Kembalikan Dana Penjual usai Pemungutan Pajak E-Commerce Ditunda

Ketertarikan Brin terhadap hal-hal baru tidak pernah surut. Ia menyukai aktivitas fisik ekstrem seperti olahraga trapeze. Untuk memahami konsep desentralisasi dalam ekosistem blockchain, ia bahkan merakit komputer gaming bersama putranya demi mencoba menambang (mining) mata uang kripto Ethereum secara mandiri. Di luar dunia digital, Brin mendirikan LTA Research & Exploration, sebuah perusahaan yang berfokus membangun pesawat balon udara raksasa modern (airship). Salah satu proyeknya dinamai Pathfinder 1, sebuah pesawat ramah lingkungan yang dirancang untuk mendukung misi pengiriman bantuan kemanusiaan global.






