Trump Media & Technology Group (TMTG), perusahaan induk dari platform media sosial Truth Social yang dimiliki oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, melaporkan kinerja keuangan untuk kuartal kedua tahun 2026. Dalam laporan tersebut, TMTG mencatatkan kerugian bersih yang cukup besar mencapai US$238,1 juta. Jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah dengan asumsi nilai kurs sebesar Rp17.840 per dolar AS, nilai kerugian tersebut setara dengan kurang lebih Rp4,25 triliun. Angka kerugian pada kuartal II 2026 ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, bahkan melonjak hampir sepuluh kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada kuartal kedua tahun 2025, perusahaan mencatatkan kerugian sebesar US$20 juta atau sekitar Rp365,8 miliar.
Pembengkakan kerugian yang dialami oleh perusahaan milik Donald Trump ini terutama didorong oleh penurunan nilai pada aset nontunai yang mereka miliki. Berdasarkan data keuangan yang dirilis, sebagian besar dari total kerugian tersebut berasal dari penurunan nilai aset digital. Secara lebih rinci, terdapat lebih dari US$190 juta atau sekitar Rp3,39 triliun dari total kerugian TMTG yang disebabkan langsung oleh merosotnya nilai dari beberapa komponen, yaitu aset digital, aset digital yang dijaminkan, serta sekuritas ekuitas yang dipegang oleh perusahaan. Penurunan nilai aset-aset ini menjadi faktor utama yang menekan neraca keuangan perusahaan sepanjang kuartal tersebut.
Sergey Brin, Pawang Google Berharta Rp4.763 T Ini Pernah Digaji US$1

Tren penurunan kinerja keuangan akibat fluktuasi nilai aset digital ini sebenarnya bukan hal baru bagi TMTG pada tahun 2026. Pada kuartal pertama tahun 2026, perusahaan induk Truth Social ini juga telah mencatatkan kerugian bersih. Laporan keuangan pada kuartal I 2026 menunjukkan bahwa kerugian bersih yang dialami perusahaan pada periode tersebut sebagian besar juga disebabkan oleh faktor yang serupa, yakni adanya penurunan nilai pada aset kripto yang mereka miliki. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai aset digital dan kripto memiliki dampak yang sangat besar terhadap stabilitas keuangan TMTG secara keseluruhan dalam beberapa kuartal terakhir.
Meskipun harus menghadapi kerugian yang membengkak akibat penurunan nilai aset nontunai, TMTG sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan yang positif dari sisi pendapatan. Pada kuartal kedua tahun 2026, pendapatan perusahaan tercatat tumbuh sebesar 89 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-over-year). Dengan pertumbuhan tersebut, TMTG berhasil meraup total pendapatan mencapai US$1,7 juta atau setara dengan Rp30,38 miliar pada kuartal II 2026. Sebagian dari pendapatan yang diperoleh perusahaan ini disumbang oleh operasional platform Truth Social, sebuah media sosial yang selama ini kerap digunakan secara aktif oleh Donald Trump untuk berkomunikasi secara langsung dengan publik.
IHSG Ambruk 0,69%, Dua Saham Ini Jadi Beban

Di tengah situasi keuangan yang menantang akibat kerugian yang meningkat tajam, manajemen TMTG tetap optimis mengenai kelangsungan rencana bisnis jangka panjang mereka. Pihak TMTG menyatakan bahwa perusahaan saat ini masih berada dalam posisi yang baik untuk menyelesaikan rencana aksi korporasi yang telah dicanangkan. Rencana tersebut adalah melakukan merger atau penggabungan usaha dengan TAE Technologies, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi fusi nuklir. TMTG menargetkan bahwa proses merger dengan TAE Technologies ini dapat diselesaikan sepenuhnya pada tahun 2026 sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.






