Tingginya mobilitas penumpang di Bali terus menjadi perhatian pemerintah dalam mengurai kemacetan. Sepanjang tahun 2025, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mencatat volume penumpang yang sangat padat, dengan total melayani 24.125.161 orang. Arus pergerakan ini didominasi oleh penumpang penerbangan internasional yang mencapai 15.177.283 orang atau sekitar 63 persen dari total keseluruhan. Sementara itu, penumpang domestik tercatat sebanyak 8.947.878 orang. Secara rata-rata, pergerakan penumpang di bandara tersebut mencapai sekitar 2 juta orang per bulan, atau setara dengan 66.000 penumpang setiap harinya. Rute domestik tersibuk adalah dari Cengkareng Jakarta dengan 4,23 juta penumpang, sedangkan untuk rute internasional didominasi oleh Singapura dengan 2,69 juta penumpang, diikuti Kuala Lumpur dengan 1,76 juta penumpang, dan Melbourne dengan 1,15 juta penumpang.
Kepadatan penumpang ini salah satunya didorong oleh pembukaan 13 rute internasional baru di Bandara I Gusti Ngurah Rai sepanjang tahun 2025. Rute-rute baru tersebut meliputi penerbangan ke Newcastle di Australia, Cheongju di Korea Selatan, Saigon di Vietnam, hingga Sichuan di China. Selama periode Januari hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 7,1 juta warga negara asing (WNA) tiba di Bali melalui bandara tersebut. Wisatawan dengan paspor Australia menjadi kelompok terbesar dengan jumlah 1,67 juta orang atau 23 persen, disusul oleh wisatawan asal India sebanyak hampir 584.000 orang, dan wisatawan dari China sebanyak 560.000 orang. Adapun puncak kepadatan penumpang terjadi pada bulan Juli 2025, yang mencatat pergerakan hingga 2,3 juta orang dengan rata-rata harian mencapai 76.005 penumpang.
Pemerintah Usulkan Nama Anggota Dewan Komisioner Baru OJK

Sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan lalu lintas darat, pemerintah merencanakan pembangunan moda transportasi kereta ringan atau LRT (Light Rail Transit) di Bali. Proyek LRT ini direncanakan membentang sepanjang 20 kilometer dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hingga ke wilayah Canggu. Berdasarkan penjelasan dari Badan Perencanaan Nasional (Bappenas), jalur LRT Bali ini dirancang untuk dibangun di bawah tanah. Untuk memulai proyek ini, studi kelayakan atau feasibility study (FS) telah disusun oleh Korea National Railways dengan dukungan pembiayaan berupa hibah (grant) dari Korea Exim Bank.
Kendati studi kelayakan telah disiapkan, realisasi pembangunan fisik LRT Bali masih menghadapi tantangan pembiayaan. Pemerintah menargetkan agar proyek ini dapat berjalan sepenuhnya tanpa menggunakan kas negara. Pada tanggal 8 April 2026, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan di Kompleks DPR RI bahwa hingga saat ini belum ada lagi investor baru yang datang atau melakukan pembahasan terkait pengembangan kereta di Bali. Padahal sebelumnya, Kementerian Perhubungan telah mengantongi ketertarikan investasi dari beberapa negara, seperti Uni Emirat Arab (UEA), Inggris, dan Korea Selatan.
Kapal Terbakar 3 Kali, Operator KM Mutiara Sentosa II Terancam Dicabut Izinnya

Untuk menjembatani masa tunggu hingga masuknya investor untuk proyek LRT, pemerintah mengusulkan solusi alternatif berupa penyediaan moda transportasi taksi air (water taxi). Langkah ini disiapkan guna mengatasi kemacetan yang kerap terjadi di Bali, terutama pada masa libur panjang. Sistem taksi air ini nantinya akan memindahkan penumpang dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan Canggu melalui jalur laut. Solusi taktis ini diharapkan dapat menampung kebutuhan mobilitas wisatawan di tengah upaya pemerintah yang tetap menawarkan proyek LRT Bali rute Bandara ke Canggu kepada para investor global.






