Proyek Multi Lane Free Flow (MLFF) resmi masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) terbaru. Ketetapan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025. Sistem MLFF sendiri merupakan teknologi pembayaran tol tanpa sentuh yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa perlu melakukan tapping kartu atau berhenti di gerbang tol. Kelanjutan proyek ini didasarkan pada rekomendasi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada akhir tahun lalu, setelah sebelumnya terjadi perbedaan pendapat di mana BPJT dan BUJT mengklaim sistem tersebut belum berhasil, sementara pihak Roatex menyatakan sebaliknya.
Perkembangan sistem pembayaran tol di Indonesia telah melalui sejarah yang panjang. Tol pertama di Indonesia adalah Tol Jagorawi yang dibangun pada tahun 1978 untuk menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi. Jalan tol perintis ini memiliki panjang 59 km, termasuk jalan aksesnya. Setelah puluhan tahun menggunakan sistem pembayaran tunai, Indonesia kemudian menerapkan kartu tol elektronik secara serempak di seluruh gerbang tol pada Oktober 2017. Transisi ke kartu elektronik ini berhasil memangkas waktu transaksi di gerbang tol secara signifikan, dari yang sebelumnya membutuhkan waktu 7-8 detik menjadi hanya 2-3 detik.
Penerapan otomatisasi gerbang tol pada tahun 2017 tersebut tentu membawa dampak sosial, khususnya bagi para pekerja. Otomatisasi ini berdampak pada 1.351 penjaga gerbang tol di PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Untuk mengatasi dampak tersebut, Jasa Marga memberikan lima pilihan kepada karyawan yang terdampak, yaitu pindah menjadi staf di kantor pusat, pindah ke kantor cabang, menjadi pegawai di anak usaha, menjadi wiraswasta di rest area jalan tol milik perseroan, atau mengambil opsi pensiun dini.
Perkembangan Signifikan Konstruksi dan Pendanaan Tol Trans Sumatera

Kini, sistem pembayaran tol bersiap memasuki era baru melalui MLFF. Proyek ini sebenarnya telah diinisiasi sejak tahun 2016, bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Hungaria, Victor Orban, ke Indonesia, dan mulai dibahas lebih lanjut pada tahun 2021. Proyek MLFF ini dimenangkan oleh perusahaan asal Hungaria, Roatex Ltd Zrt, dan dikerjakan oleh anak usahanya, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS). Seluruh pendanaan proyek yang mencapai US$ 300 juta ini berasal dari anggaran negara Hungaria melalui RITS. Meskipun demikian, implementasi sistem ini sempat mengalami keterlambatan lebih dari tiga tahun dari target awal operasional yang semula direncanakan pada tahun 2022.
Secara teknis, sistem MLFF bekerja dengan melacak pergerakan kendaraan menggunakan minimal tiga satelit dengan tingkat akurasi mencapai 1 meter. Pengujian sistem ini telah dilakukan secara intensif, dengan setidaknya 1.900 kali uji coba di Jalan Tol Bali Mandara sejak akhir Desember 2023. Selain itu, sebuah uji fungsi (functional test) juga telah dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 5 Maret untuk mendemonstrasikan fitur-fitur yang ada di dalam aplikasi pendukung bernama CANTAS.
ATI Siapkan FGD Penyelarasan Ekosistem Jalan Tol di Jakarta

Kendati pengujian terus berjalan, implementasi penuh MLFF masih menghadapi tantangan regulasi dan mekanisme keuangan. Berdasarkan kerangka hukum yang berlaku saat ini di Indonesia, tindakan tidak membayar tol belum dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran lalu lintas. Selain itu, skema pengumpulan dana transaksi di bawah sistem MLFF juga menjadi perhatian karena dana yang terkumpul akan ditampung terlebih dahulu dan tidak langsung disalurkan ke kantong Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).






