Perkembangan proyek infrastruktur konektivitas di Pulau Sumatera terus menunjukkan kemajuan nyata melalui penyelesaian beberapa ruas utama serta persiapan pendanaan dan lahan untuk jalur penghubung berikutnya. Langkah-langkah ini menjadi bagian krusial dalam menyokong kelanjutan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang bertujuan mengintegrasikan berbagai provinsi di wilayah tersebut.
Salah satu pencapaian konkret terlihat pada Jalan Tol Padang-Sicincin sepanjang 35,9 kilometer yang kini telah rampung konstruksinya. Proyek yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Hutama Karya Infrastruktur ini berada di bawah pengawasan PT Anugerah Kridapradana dan PT Egis International Indonesia. Ruas jalan tol ini dirancang untuk kecepatan rencana 80 kilometer per jam dengan konfigurasi awal dua lajur dua arah.
Setelah mengantongi Sertifikat Laik Fungsi dan Operasi (SLFO) dari Direktorat Jenderal Bina Marga pada 30 April 2025, operasional jalan tol ini kemudian ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 519/KPTS/M/2025 pada 19 Mei 2025. Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan tiga sasaran utama melalui Jalan Tol Padang-Sicincin, yaitu menekan ICOR di bawah 6, pengentasan kemiskinan menjadi 0 persen, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen per tahun. Saat ini, pengerjaan di lapangan masih menyisakan penyelesaian jalur akses sepanjang 2,4 kilometer menuju Lubuk Alung.
Prabowo Soroti Impor BBM RI yang Mencapai Rp534 Triliun per Tahun

Bergeser ke koridor penghubung Sumatera Selatan dan Jambi, kemajuan juga ditandai dengan kepastian pendanaan untuk ruas tol Betung-Tempino-Jambi sepanjang kurang lebih 170,73 kilometer. PT Hutama Karya (Persero) telah menandatangani perjanjian fasilitas kredit senilai Rp13,645 triliun. Pembiayaan berskema sindikasi ini melibatkan sejumlah lembaga keuangan, mencakup PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), PT Bank Central Asia Tbk, serta PT Bank Mega Tbk. Berdasarkan kajian dari Core Indonesia pada tahun 2024, keberadaan ruas tol Betung-Tempino-Jambi ini diproyeksikan mampu menghemat waktu tempuh perjalanan hingga sekitar 59,05 persen.
Sementara itu, persiapan untuk ruas tol Jambi-Rengat kini tengah difokuskan pada pembebasan lahan dan penetapan lokasi. Ruas tol ini telah resmi ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Lampiran Angka 14 Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025. Gubernur Jambi Al Haris menargetkan seluruh proses penetapan lokasi hingga pendataan ganti rugi lahan dapat diselesaikan sepenuhnya pada akhir Desember 2026. Pemerintah Provinsi Jambi sendiri menetapkan batas waktu hingga 5 September 2026 untuk penetapan lokasi jalan tol Jambi-Rengat.
Keseimbangan Pasokan Komoditas Pertambangan Perlu Diatur, Pemerintah Soroti Fokus Industri

Pembangunan fisik untuk ruas Jambi-Rengat diharapkan dapat dimulai pada tahun 2027. Pada tahap I (Pijoan-Cinto Kenang-Merlung) dengan panjang total 67,45 kilometer, proyek akan dibagi menjadi dua seksi utama. Seksi I menghubungkan Simpang Ness menuju Cinto Kenang di Kabupaten Muaro Jambi sepanjang 18,75 kilometer, sedangkan Seksi II membentang sepanjang 48,70 kilometer dari Bukit Cinto Kenang menuju Merlung di wilayah Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kebutuhan anggaran untuk menyelesaikan ruas tol Jambi-Rengat ini mencapai Rp17 triliun, yang pembangunannya mendapat dukungan pembiayaan pinjaman luar negeri dari Islamic Development Bank (IsDB) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
Rangkaian perkembangan ini memperlihatkan koordinasi yang terus berjalan antara pemerintah daerah, badan usaha jalan tol, serta lembaga keuangan dalam merealisasikan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera secara bertahap dan terukur.






