Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menekankan pentingnya pengaturan keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) untuk komoditas pertambangan di tanah air. Hal ini disampaikan oleh Elen Setiadi, yang menjabat sebagai Deputi Bidang Energi Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Menurut penilaian Elen Setiadi, arah kebijakan Indonesia saat ini dinilai masih cenderung hanya berfokus pada pengembangan sektor industri semata. Pandangan tersebut ia kemukakan saat berbicara dalam acara diskusi MINDialogue 2026 yang berlangsung pada hari Kamis, 13 Agustus 2026.
Acara MINDialogue 2026 yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan tersebut mengusung tema yang sangat strategis, yaitu "Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI". Tema ini menjadi landasan penting bagi Elen Setiadi untuk menyoroti bagaimana pengelolaan cadangan mineral dan komoditas tambang harus dilakukan secara seimbang. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa fokus yang hanya tertuju pada pembangunan industri tanpa diimbangi oleh pengelolaan pasokan dan permintaan komoditas pertambangan dapat memicu ketidakseimbangan di pasar domestik maupun global.
Lebih lanjut, Elen Setiadi menjelaskan bahwa perkembangan industri pertambangan yang sedang berjalan dengan pesat saat ini tetap membutuhkan kehadiran off-taker yang kuat. Peran off-taker ini sangat krusial karena mereka bertindak sebagai pihak pembeli siaga atau pembeli tetap. Off-taker memiliki komitmen yang jelas untuk menampung, menyerap, atau membeli seluruh hasil produksi yang dihasilkan oleh para produsen pertambangan. Tanpa adanya jaminan penyerapan hasil produksi dari pembeli siaga ini, keberlangsungan industri pertambangan dan investasi yang telah ditanamkan di dalamnya bisa menghadapi tantangan yang cukup besar dalam menjaga stabilitas operasionalnya.
Penjelasan BKN Terkait Kabar 2.722 ASN Mengundurkan Diri

Dalam konteks mendorong investasi dan menjaga stabilitas tersebut, peran lembaga Danantara menjadi sangat penting. Elen Setiadi menyebutkan bahwa salah satu tugas utama dari Danantara adalah bagaimana mendorong masuknya investasi ke dalam sektor-sektor strategis ini. Terkait hal tersebut, Danantara kini memiliki tanggung jawab untuk merumuskan dan menyelesaikan mekanisme investasi yang tepat agar proyek-proyek strategis nasional dapat berjalan dengan lancar dan memberikan dampak optimal bagi perekonomian nasional.
Sebagai salah satu contoh konkret dari upaya pemanfaatan cadangan komoditas tambang secara optimal, Elen menunjuk pada potensi cadangan batubara yang melimpah di wilayah Sumatera Selatan. Cadangan batubara di daerah Sumatera Selatan tersebut diperkirakan mencapai jumlah yang sangat besar, yaitu sekitar 1 miliar ton. Guna memanfaatkan cadangan batubara yang melimpah tersebut secara efektif dan efisien, komoditas tersebut diolah lebih lanjut menjadi Dimethyl ether (DME). Produk hasil olahan batubara berupa DME ini diproyeksikan untuk digunakan sebagai bahan bakar alternatif guna menggantikan Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang selama ini dikonsumsi oleh masyarakat.
Prabowo Soroti Impor BBM RI yang Mencapai Rp534 Triliun per Tahun

Proses untuk mendorong program pengembangan Dimethyl ether (DME) sebagai pengganti LPG ini dilaporkan telah selesai dilakukan. Langkah selanjutnya yang kini harus diselesaikan adalah berada di tangan Danantara. Lembaga Danantara saat ini hanya tinggal merampungkan dan memfinalisasi bagaimana mekanisme investasi yang akan diterapkan untuk program DME tersebut. Dengan diselesaikannya mekanisme investasi oleh Danantara, diharapkan pemanfaatan cadangan batubara Sumatera Selatan sebesar 1 miliar ton tersebut dapat segera direalisasikan demi mendukung stabilitas energi dan kedaulatan ekonomi Indonesia.






