Fenomena gerhana matahari yang berlangsung pada 12 Agustus memicu lonjakan minat wisatawan untuk mendatangi sejumlah wilayah di Eropa. Negara-negara seperti Inggris, Islandia, Spanyol bagian utara, Greenland, hingga Portugal menjadi titik strategis untuk menyaksikan peristiwa alam tersebut. Tingginya antusiasme ini berdampak langsung pada sektor pariwisata, khususnya tarif akomodasi yang melambung sangat tinggi dari tarif biasa.
Berdasarkan data yang dirilis oleh perusahaan intelijen komersial perjalanan dan perhotelan Lighthouse Intelligence, harga hotel tembus Rp 17,9 juta semalam gegara orang mau lihat gerhana. Lonjakan tarif ini terpantau di beberapa wilayah Eropa dengan merujuk pada harga pemesanan pada pertengahan Juli. Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada hotel konvensional, melainkan juga pada akomodasi sewa jangka pendek yang diminati para pelancong.
Di Reykjavik, ibu kota Islandia, rata-rata tarif hotel menyentuh angka US$1.012 (sekitar Rp 17,9 juta) per malam selama pekan gerhana berlangsung. Angka ini naik dua kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Sementara itu, untuk akomodasi sewa jangka pendek di kota yang sama, tarif rata-ratanya menembus US$1.172 per malam, atau melonjak hingga 178 persen secara tahunan.
Penjelasan BKN Terkait Kabar 2.722 ASN Mengundurkan Diri

Kondisi serupa terlihat di Bilbao, Spanyol. Di kota ini, harga rata-rata sewa akomodasi jangka pendek mencapai US$1.088 per malam, mencatatkan kenaikan sebesar 206 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, harga kamar hotel di Bilbao dibanderol rata-rata US$315 per malam, yang merepresentasikan peningkatan tahunan sebesar 35 persen. Sebaliknya, kota Santiago de Compostela di Spanyol menjadi destinasi dengan tarif termurah, yakni rata-rata US$193 per malam untuk hotel. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut berada di luar jalur totalitas gerhana matahari, meskipun tarifnya tetap mengalami kenaikan sebesar 13 persen dari tahun lalu.
Menanggapi fenomena ini, Jonathan Gough selaku pemimpin tim pemasaran konten di Lighthouse memaparkan bahwa langkah pengelola akomodasi ini merupakan hal yang lumrah. Menurut Gough, menguji seberapa tinggi harga yang bersedia dibayar oleh pasar adalah praktik standar industri perhotelan saat menghadapi lonjakan permintaan akibat peristiwa langka, mirip dengan momentum Piala Dunia FIFA atau konser musik Taylor Swift.
Prabowo Soroti Impor BBM RI yang Mencapai Rp534 Triliun per Tahun

Lebih lanjut, Gough menjelaskan adanya perbedaan strategi antara pelaku industri di Islandia dan Spanyol bagian utara. Akomodasi di Islandia awalnya menerapkan harga spekulatif yang sangat tinggi, berkisar tiga hingga empat kali lipat dari tarif normal sejak setahun sebelum acara. Namun, dalam tiga bulan terakhir menjelang gerhana, mereka mulai menurunkan harga tersebut secara bertahap. Sebaliknya, hotel-hotel di Spanyol utara memilih menetapkan tarif normal pada musim semi dan baru menaikkan harga seiring dengan bertambahnya jumlah pemesanan yang masuk.
Analisis dari platform data akomodasi AirDNA yang dirilis pada 11 Agustus turut memperkuat temuan ini. Kenaikan signifikan pada sewa jangka pendek di Spanyol dan Islandia didorong oleh posisi geografis properti yang berada langsung di jalur totalitas gerhana. Di Islandia, hampir 64 persen dari sekitar 9.000 akomodasi sewa yang terdaftar berada di dalam jalur totalitas tersebut. Sementara di Spanyol, sekitar 21 persen dari total 365.400 listing akomodasi sewa berada di jalur lintasan gerhana matahari total.






