Grup MIND ID diproyeksikan bakal menikmati lonjakan kinerja keuangan dan operasional yang signifikan pada semester II/2026. Tren positif ini didorong oleh kombinasi antara penguatan harga komoditas di pasar global serta akselerasi berbagai proyek hilirisasi yang tengah digarap oleh sejumlah anak usahanya. Pengamat tambang dan energi, Ferdy Hasiman, memperkirakan bahwa emiten-emiten yang berada di bawah naungan MIND ID berpotensi mencatatkan pertumbuhan kinerja rata-rata hingga 30 persen pada paruh kedua tahun ini.
Proyeksi pertumbuhan yang cukup agresif tersebut didukung oleh tren kenaikan harga komoditas tambang utama dunia, mulai dari nikel, timah, batu bara, hingga emas. Dalam ekosistem MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan grup melalui ekspansi proyek hilirisasi nikel. ANTM kini memiliki kapasitas produksi yang signifikan, di antaranya melalui fasilitas smelter di Sulawesi Tengah yang memiliki kapasitas sekitar 27 ribu metrik ton. Selain itu, terdapat pula proyek Feni Haltim di Halmahera yang dirancang dengan kapasitas produksi sekitar 14 ribu metrik ton.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Prospek bisnis nikel ANTM ini berjalan beriringan dengan perkiraan harga komoditas global yang diproyeksikan tetap stabil. Bank Dunia memperkirakan harga rata-rata nikel akan berada di kisaran 15.500 dolar AS per metrik ton pada tahun 2026. Sementara itu, lembaga keuangan Goldman Sachs memproyeksikan harga nikel akan bertengger di sekitar level 14.500 dolar AS per metrik ton pada akhir tahun 2026. Di samping nikel, komoditas emas juga diprediksi akan mencetak performa gemilang. JPMorgan memproyeksikan harga emas rata-rata dapat menyentuh angka 4.300 dolar AS per ons pada kuartal III/2026, kemudian meningkat menjadi 4.500 dolar AS per ons pada kuartal IV/2026, dengan target akhir tahun berada di level 4.545 dolar AS per ons.
Di sektor komoditas lainnya, PT Timah Tbk (TINS) juga diperkirakan akan memetik keuntungan besar dari tren kenaikan harga timah di pasar internasional. Optimisme ini diperkuat oleh langkah BMI (Fitch Solutions) yang merevisi proyeksi rata-rata harga timah untuk tahun 2026 menjadi 35.000 dolar AS per ton, naik dari estimasi awal yang berada di angka 32.000 dolar AS per ton. Di saat yang sama, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga diproyeksikan akan mendapatkan sentimen positif yang kuat seiring dengan pulihnya harga batu bara global, yang diharapkan mampu mendongkrak performa pendapatan perseroan pada paruh kedua tahun ini.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Meskipun peluang pertumbuhan terbuka lebar di tengah membaiknya harga komoditas global, realisasi dari proyeksi ini tetap menghadapi tantangan ketidakpastian pasar makro. Menanggapi situasi tersebut, Ferdy Hasiman mengingatkan pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), agar tetap menjaga stabilitas kebijakan di sektor pertambangan. Konsistensi regulasi dari Kementerian ESDM dipandang sangat krusial untuk memberikan kepastian usaha bagi MIND ID beserta anak-anak usahanya dalam mengoptimalkan momentum kenaikan harga komoditas dan menuntaskan proyek hilirisasi secara berkelanjutan.






