Ketukan Kecil di Bundaran HI, Pesan Besar dari Gubernur

Nyaring AranPublished 26 Jul 2026 - 10.42 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Ketukan Kecil di Bundaran HI, Pesan Besar dari Gubernur
Foto/Ilustrasi: tempo.co.
A-A+

Lampu merah menyala di pelican crossing seberang Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin. Belasan pejalan kaki mulai menyeberang dengan hak penuh. Di tengah arus itu, sebuah Toyota Alphard hitam tiba-tiba menerobos tanpa jeda, memaksa langkah-langkah kecil tertahan. Seorang petugas keamanan yang berdiri di titik itu bereaksi cepat: tangannya menepuk bodi mobil, bukan dengan amarah, melainkan dengan kecemasan seorang penjaga yang melihat orang-orang hampir celaka. Tepukan itu melahirkan cekcok. Video yang beredar kemudian memanas dengan narasi intimidasi dari pihak di dalam Alphard. Di saat pekerja biasa itu bisa saja dianggap bersalah, langit Jakarta justru berpihak padanya—lewat suara paling tinggi di Balai Kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, tak menunggu lama. Sehari setelah viral, Jumat (24/7/2026), ia berdiri di Balai Agung dan mengunci perhatian pada nasib seorang satpam. “Yang pertama adalah untuk nasibnya satpam saya akan meminta untuk tidak dipecat atau diberhentikan,” ucapnya tegas. Kalimat ini melampaui retorika; ia adalah tameng langsung bagi manusia kecil yang kerap kehilangan posisinya hanya karena bersikap benar. Pramono tak hanya membela, ia membuka tabir lebih pekat: mobil dengan pelat khusus itu rupanya menggunakan pelat palsu. Di hadapan fakta pelanggaran lalu lintas dan administrasi sekaligus, sang gubernur mengunci simpul: yang salah adalah pengendara, bukan penjaga trotoar.

Also Read

Doa Seorang Ibu di Kebun Sayur yang Berbuah Peringkat Pertama Selama Lima Tahun

Yang menarik bukan sekadar pembelaan. Pramono membaca arogansi yang tersirat dari peristiwa ini. Ia melihat gelagat “seakan-akan berkuasa” dari pihak yang nyata-nyata melanggar. “Saya sudah minta untuk aparat penegak hukum kalau kemudian ini tidak bisa diselesaikan secara baik, ya tentunya yang melakukan … itu harus diberi sanksi,” tegasnya. Pilihan kata itu mengirim pesan ganda: mediasi damai boleh ditempuh, tetapi jika hanya menjadi tameng untuk melindungi yang berpunya, maka hukum wajib menegaskan kembali posisinya. Ia tidak memberi ruang pada penyelesaian yang mengorbankan martabat petugas kecil demi kenyamanan segelintir orang.

Di sisi lain, Kepala Polsek Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu menyampaikan bahwa mediasi pada hari kejadian telah berakhir dengan saling memaafkan. Secara prosedural, konflik dianggap reda. Namun persepsi publik kerap tak sesederhana itu: satpam yang menegur bisa saja kembali bertugas dengan rasa getir, sementara pengemudi Alphard terus melaju tanpa cacat reputasi. Polisi pun mengaku masih mencari bukti spesifik dugaan intimidasi, meski belum ditemukan. Ada jarak antara damai di atas kertas dan keadilan yang dirasakan di jalanan. Di celah itulah suara Gubernur menjadi vital, menahan agar nama baik satpam tak luruh diam-diam.

Also Read

Wajah Baru Sekolah Ambruk di November 2027, Gubernur Mulai Hitung Mundur September

Ketukan kecil di zebra cross Bundaran HI menjelma lebih dari sekadar peringatan lalu lintas. Ia adalah potret ketimpangan keseharian yang mempertemukan kemewahan dan pengabdian. Dengan meminta satpam tetap bekerja, Pramono Anung tidak hanya menyelamatkan satu pekerjaan, tetapi menegaskan ulang hierarki yang seharusnya: siapa pun boleh mewah, tetapi tidak boleh merendahkan mereka yang menjaga tata kota. Di depan kemewahan pelat palsu dan klakson tak sabar, keberanian satpam itu kini memiliki tameng bernama solidaritas dari lantai tertinggi Jakarta. Kota ini butuh lebih banyak tepukan kecil yang tak dihukum, agar zebra cross tetap menjadi ruang aman bagi seluruh langkah manusia.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca