Langkah-langkah kecil di sepanjang jalan Jakarta pagi itu membawa pesan yang jauh lebih besar dari sekadar olah raga akhir pekan. Rombongan fun walk dan clean parade yang mengawali Gerak Hijau 2026 bukan hanya kumpulan warga biasa, melainkan juga para pekerja salah satu perusahaan tambang terbesar negeri ini. Di tangan mereka, ribuan bibit tanaman siap berpindah ke tangan masyarakat. Momentum peringatan 58 tahun PT ANTAM (Persero) Tbk itu memang sengaja dibungkus dengan tema “Gerak Bersama, Hijaukan Indonesia”, sebuah pengingat bahwa warisan bumi yang lebih hijau tak cukup hanya dititipkan kepada pemerintah atau aktivis lingkungan.
Di titik inilah Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyentuh inti perkara. Ia menolak mengkotak-kotakkan tanggung jawab. Selama ini, katanya, publik kerap mendengar narasi bahwa menjaga alam adalah tugas pemerintah, atau sebaliknya kewajiban dunia usaha. Padahal, jawaban paling jujur justru sangat sederhana: lingkungan adalah urusan kita semua, tanpa terkecuali. Diaz menggambarkan sebuah segitiga tak terpisahkan—pemerintah merangkai kebijakan, korporasi menjalankan bisnis secara bertanggung jawab, dan warga menanamkan kebiasaan lestari dalam keseharian. Bila ketiga titik ini bergerak serentak, ia meyakini wajah Indonesia akan segera berubah menjadi jauh lebih hijau.
Troy Pantouw, Juru Bicara IKN Wafat di Rusun Perintis Kota Nusantara

Keyakinan itu tidak disampaikan dalam ruang hampa. Catatan ANTAM sepanjang tahun lalu memberi fondasi yang kuat. Perusahaan berhasil menekan emisi karbon hingga 9,43 persen, melampaui target yang sudah ditetapkan. Capaian ini bukan angka kebetulan, melainkan buah dari optimalisasi energi di seluruh lini operasi serta peralihan bertahap ke sumber daya terbarukan. Panel surya dan biosolar kini bukan lagi sekadar proyek percobaan, melainkan bagian hidup dari kegiatan tambang yang sehari-hari bersentuhan dengan sumber daya alam. Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto menyebut laju penurunan emisi di paruh pertama tahun ini pun telah kembali melampaui target tahunan, sebuah sinyal bahwa komitmen itu bukan sekadar tren sesaat.
Menariknya, Gerak Hijau tidak berhenti pada laporan keberlanjutan atau seremoni panggung. Ruang edukasi sengaja dibangun agar publik bisa menyentuh langsung isu-isu yang kerap dianggap teknis dan jauh. Ada lokakarya pengelolaan limbah yang membuka mata, festival UMKM yang memamerkan produk daur ulang, hingga kampanye pemakaian cangkir guna ulang dan pemilahan sampah di setiap sudut acara. Ribuan bibit yang dibagikan itu adalah simbol konkret bahwa pelestarian bukan wacana. Seperti pesan yang diselipkan Diaz, kehadiran bibit-bibit itu akan sia-sia jika hanya berakhir di bagasi mobil dan tidak segera menyentuh tanah.
Rak Besi Transmart Dibanderol di Bawah Satu Juta, Berkah Full Day Sale Akhir Pekan

Pada akhirnya, pemandangan pagi itu seperti merangkum sebuah pergeseran besar. Citra pertambangan yang selama ini identik dengan luka alam perlahan diimbangi oleh bukti bahwa reklamasi dan operasi bertanggung jawab bukanlah mitos. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk melangkah bersama. Dari tangan para penambang yang membagikan bibit, lahir pesan sunyi namun jelas: menghijaukan Indonesia bukanlah perlombaan siapa yang paling dulu sampai, melainkan gerak panjang yang harus ditempuh oleh setiap kaki yang berpijak di atas negeri ini.






